Serangan Fajar

Suara-Suara Burung di Sarinah dan Gejolak Mental Nasionalis

Serangan Fajar  JUM'AT, 15 JANUARI 2016 , 08:24:00 WIB | LAPORAN:

Suara-Suara Burung di Sarinah dan Gejolak Mental Nasionalis
SEJATINYA kehidupan sudah kian palsu, jadi tidak perlu lagi upaya untuk memalsukan eksistensinya. Manusia dewasa ini, yang katanya sebagai penghuni peradaban modern malah sangat antusias memalsukan hidup yang sudah palsu ini. Didalam kehidupan palsu ini, manusia berlomba-lomba menciptakan atau sekadar meminjam topeng yang menutupi wajah aslinya.

Salah satu kepalsuan yang cukup kontras tersaji dipermukaan aktivitas manusia adalah penggunaan suara-suara burung sebagai penutup wajah aslinya. Premis pertama yang mendukung pertanyaan tersebut adalah kegemaran manusia menciptakan konspirasi. Konspirasi tersebut diciptakan untuk menutupi keaslian sebuah tujuan. Jika ada sebuah tujuan yang benar dan baik, maka keaslian metode pencapaiannya tidak perlu disembunyikan. Premis kedua adalah perilaku latah meniru cara burung pada saat bersuara. Suara para burung terlalu samar untuk dapat dicerna substansinya, esensi pesannya akan terkikis diterpa angin.

Kepalsuan lain yang menjadi warna aktivitas manusia dewasa ini adalah menjalankan sesuatu yang bukan dirinya (ide). Manusia hanya menggunakan kecenderungan untuk latah mengikuti wacana-wacana yang menyerang alam bawah sadarnya. Ide asli manusia tidak mampu terakomodir untuk ditransformasikan menjadi aktivitas nyata. Segala aktivitas mayoritas manusia menjadi palsu.

Kepalsuan hidup yang dipalsukan ini kemudian mendapatkan panggungnya di Sarinah, simbol ekonomi raksasa tertua di Jakarta. Suara-suara burung dari alat negara dan simbol dari mental follower masyarakat Indonesia tumpah menjadi satu pasca tragedi bom Sarinah. Bukan berbicara tentang siapa pihak yang bertanggung jawab dan bukan berbicara tentang kerusakan apa yang disebabkan tragedi tersebut. Kita sedang membicarakan mental dan kesadaran manusia Indonesia setelah tragedi tersebut.

Indonesia yang masih mengeksistensikan sistem pengkastaan (ada yang super dan ada yang sub), menciptakan dua kepalsuan yang menggambarkan mental dan kesadaran manusianya pada saat merespon tragedi bom Sarinah. Kasta super dieksistensikan oleh alat-alat negara dan kasta sub dieksistensikan oleh masyarakat (sipil).  Kepalsuan yang diciptakan alat-alat negara adalah dengan memanfaatkan tragedi tersebut sebagai senjata untuk menyerang pihak lain, namun yang diperankan di hadapan masyarakatnya seolah-olah menyuguhkan bentuk kepedulian pada nasib negara.


Komentar Pembaca
Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

SELASA, 23 OKTOBER 2018 , 14:29:00

Bercanda Bareng Warga

Bercanda Bareng Warga

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 08:56:00

Salat Ghaib

Salat Ghaib

JUM'AT, 02 NOVEMBER 2018 , 17:44:00



The ads will close in 10 Seconds