Waspada, Adat Yang Sakral Pun Rawan Tergadai Untuk Kepentingan Pilgubsu

Politik  SABTU, 12 AGUSTUS 2017 , 12:45:00 WIB | LAPORAN: ROBEDO GUSTI

Waspada, Adat Yang Sakral Pun Rawan Tergadai Untuk Kepentingan Pilgubsu

Gordang/RMOLSumut

RMOLSumut. Adat yang sakral menjadi salah satu hal yang rawan tergadai untuk kepentingan politik jelang Pilgubsu 2018. Setuju atau tidak, para tokoh budaya juga sangat rawan terlibat dalam "mengangkangi" kesakralan adatnya karena dorongan materi dari sosok yang ingin menjadikan adat sebagai komoditas politik.
Demikian disampaikan Seniman Teja Purnama lewat karya seni Theater "Gordang" yang ditampilkan di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (11/8) malam tadi.

Dalam lakonnya, sang Maestro Gordang yang diperankan Ahmad Munawar Lubis bahkan harus rela meninggalkan sisi idealismenya terhadap kesakralan Gordang Sambilan dalam upacara penabalan marga. Adalah ekonomi yang sulit yang memaksanya untuk menerima tawaran menabuh Gordang Sambilan untuk "melegasisasi" penabalan marga yang "mengangkangi" kesakralan adat tersebut.

"Desakan yang paling kuat itu kan dari istrinya yang diperankan Bunda Djibril Djuhra, untuk menerima tawaran menabung gordang sambilan di acara penabalan itu. Alasannya ekonomi. Ini kritik besar bahwa hingga saat ini, para seniman musik tradisional masih belum sejahtera," katanya kepada RMOLSumut.com.

Sang Maestro sendiri sebenarnya sangat enggan menabuh Gordang Sambilan yang menurutnya tidak layak mengiringi penabalan marga yang merusak adat tersebut. Ia bahkan mencoba membujuk sang istri agar tidak terus memaksanya menerima tawaran dari "makelar bisnis politik" yang diperankan Abdul Razak Nasution yang menjadikan penabalan marga sebagai momen mengambil uang sang politisi.

"Pada akhirnya semua terlaksana, adat tergadai dan para seniman tersebut ternyata hanya dibayar setengah oleh sang politisi yang akhirnya terpilih karena didukung oleh suku pemilik asli marga yang ditabalkan kepadanya. Ini ironi yang harus dicegah pada momen Pilgubsu," ujarnya.

Teja sendiri mengaju setuju, kemeriahan agenda politik dilakukan dengan melibatkan para maestro musik tradisional. Namun hal tersebut harus dibatasi sehingga hal-hal yang sakral tidak dilanggar.

"Kalau hanya misalnya pertunjukan musik atau tarian silahkan. Tapi kalau harus melanggar kesakralan adat-adat tertentu demi kepentingan politis. Yakinlah itu akan membuat "kerusakan" parah ditengah masyarakat," demikian Teja Purnama.[rgu]

Komentar Pembaca
Prabowo Puji Mahasiswa UBK

Prabowo Puji Mahasiswa UBK

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 22:00:00

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 20:00:00

Beri Remisi, Negara Hemat Rp 102 Miliar

Beri Remisi, Negara Hemat Rp 102 Miliar

JUM'AT, 18 AGUSTUS 2017 , 16:00:00

Apel Tanpa Bendera Kantor Gubsu

Apel Tanpa Bendera Kantor Gubsu

SENIN, 03 JULI 2017 , 14:13:00

Wak Ong Diarak Warga Binjai

Wak Ong Diarak Warga Binjai

SENIN, 31 JULI 2017 , 12:51:00

Prangko Anti Narkoba

Prangko Anti Narkoba

KAMIS, 20 JULI 2017 , 21:36:00