ARSA Ajak Militer Myanmar Gencatan Senjata Sebulan

Dukung Bantuan Kemanusiaan Untuk Rohingya

Peristiwa  SELASA, 12 SEPTEMBER 2017 , 11:34:00 WIB

ARSA Ajak Militer Myanmar Gencatan Senjata Sebulan

Foto/Net

RMOLSumut. Gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army (Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan/ARSA) memutuskan melakukan gencatan senjata selama sebulan agar bantuan kemanusiaan bisa disalurkan kepada etnis Rohingya.
Gencatan senjata resmi dimulai kemarin, 10 September. Pengumuman luncurkan di Twit­ter ARSA, Minggu (10/9) ke­marin. Sekitar 300 ribu etnis Ro­hingya telah tiba di Bangladesh sejak pecah pertempuran antara ARSA dengan pasukan militer Myanmar sejak 25 Agustus lalu. Warga melarikan diri dari tempat tinggal mereka di Negara Bagian Rakhine dan menyeberang ke Bangladesh.

ARSA mendesak Pemerintah Myanmar untuk membantu korban tanpa memperhitungkan latar belakang mereka. Hingga saat ini, belum ada respons dari pihak militer Myanmar atas imbauan gencatan senjata. Namun kelompok ARSA yakin ajakan ini akan diterima militer Myanmar. Sebab banyak kelompok relawan kemanusiaan di Rakhine menyatakan apa yang dilakukan tentara Myanmar lebih mengarah kepada aksi pembersihan etnis, ketimbang operasi militer.

Menurut ARSA, kelompoknya sudah melakukan jalan terbaik untuk membantu para korban khususnya pengungsi Rohingya yang mengungsi tanpa difasili­tasi pemerintah, berbeda dengan warga Rakhine lainnya.

"ARSA sepenuhnya mendu­kung semua aktor kemanusiaan yang peduli untuk melanjutkan bantuan kemanusiaan mereka ke seluruh korban krisis kemanu­siaan, tak peduli latar belakang etnis atau agama selama periode gencatan senjata," ujar ARSA dalam pernyataannya.

ARSA juga mengajak mili­ter Myanmar juga melakukan hal yang sama. ARSA juga meminta agar militer Myanmar (Tatmadaw) memberi jalan agar bantuan kemanusiaan bisa sampai ke etnis Rohingya.

Perwakilan Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Dunia (IFRC) Joy Singhal mengatakan, gencatan senjata akan membantu pekerjaan mereka mengirim bantuan ke Rakhine jika dilakukan kedua belah pihak.

Dia mengatakan IFRC mengambil alih pekerjaan pengiriman bantuan ke Rakhine setelah Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa terpaksa menghentikan sementara kegia­tan mereka, sebab pemerintah Myanmar menuding kalau PBB membantu pemberontak.

Singhal mengatakan, pemerintah mengundang mereka mengirim bantuan. Namun, hal itu harus dilakukan di bawah pengawasan pemerintah, sehingga banyak orang Rohingya khawatir mereka tidak bakal menerima bantuan.

"Kami meminta keamanan di jalur pengiriman bantuan. Sebab kami bakal mengirim makanan, air minum, dan transportasi bagi orang-orang ke wilayah lebih aman," kata Joy.

Dalam dua pekan terakhir, ribuan rumah telah dibakar, puluhan desa luluhlantak dan ribuan orang berusaha berjalan menuju perbatasan Bangladesh untuk menyelamatkan diri.

Sejumlah badan bantuan kema­nusiaan dan komunitas setempat selama ini memberikan bantuan kepada ratusan ribu pengungsi Rohingya yang sebelumnya lari akibat gelombang kekerasan di Myanmar. [rmol]

Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 16:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 14:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 20:00:00

Effendi Simbolon di Warkop Siantar

Effendi Simbolon di Warkop Siantar

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 , 16:55:00

Cek Senjata Personil

Cek Senjata Personil

KAMIS, 12 OKTOBER 2017 , 20:36:00

Press Conference AKSIS 2017

Press Conference AKSIS 2017

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 , 17:19:00