Indonesia​ ​Darurat​ ​Merkuri​!​

OLEH: TJATUR SAPTO EDY

Politik  RABU, 13 SEPTEMBER 2017 , 10:31:00 WIB

Indonesia​ ​Darurat​ ​Merkuri​!​
BEBERAPA minggu terakhir DPR bersama Pemerintah intensif melakukan pembahasan RUU tentang Pengesahan Konvensi Minamata mengenai Merkuri, dimana akan disahkan menjadi Undang-Undang pada hari ini 13 September 2017.
Merkuri atau sering disebut Raksa dan senyawa merkuri merupakan logam berat yang sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan hidup karena bersifat racun, persisten, bioakumulasi, dan dapat berpindah dalam jarak jauh melalui berbagai media termasuk atmosfir. Dengan bantuan bakteri di alam bebas, merkuri bisa berubah menjadi Metil Merkuri yang lebih berbahaya karena masuk dalam rantai makanan.

Pada tahun 2001, United Nations Environmental Program (UNEP) melakukan kajian global tentang merkuri dan senyawa merkuri dalam berbagai aspek dan menyimpulkan harus ada upaya internasional untuk mengendalikan dampak merkuri bagi umat manusia dan lingkungan hidup. Tonggak penting dari upaya internasional tersebut adalah disepakatinya Konvensi Minamata di Kumamoto, Jepang pada 10 Oktober 2013 dan Indonesia merupakan salah satunegara yang menandatangani perjanjian ini. Konvensi ini sejatinya agak terlambat karena umat manusia telah merasakan besarnya dampak merkuri di Minamata pada tahun 1950an.

Konvensi Minamata bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari emisi dan lepasan merkuri maupun senyawa merkuri yang bersifat antropogenik. Konvensi ini mengatur pengadaan dan perdagangan merkuri dan senyawa merkuri, termasuk di dalamnya pertambangan merkuri, penggunaannya di dalam produk dan proses industri, pengelolaan merkuri di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), pengendalian emisi dan lepasan merkuri dari industri ke udara, air dan tanah, penyimpanan stok merkuri dan senyawa merkuri sebagai bahan baku atau tambahan produksi, pengelolaan limbah merkuri dan bahan terkontaminasi merkuri, serta kerjasama internasional dalam pengelolaan bantuan teknis, pendanaan dan pertukaran informasi.

Emisi merkuri dan senyawa merkuri terutama disebabkan oleh aktivitas manusia. Dalam skala global, UNEP (2013) mengidentifikasi sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) sebagai penyumbang utama emisi merkuri (37 persen) dan diikuti oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara (24 persen).

Di Indonesia, PESK masih sebagai penyumbang emisi merkuri terbesar (57,5 persen) (Kania Dewi, 2012). Tidak kurang teridentifikasi 800 titik PESK tersebar merata di berbagai pelosok tanah air dari Papua hingga Sumatera yang melibatkan sekitar 300.000 pekerja, dengan produksi emas yang sangat besar yaitu 192 ton-384 ton per tahun, mungkin lebih!

Penggunaan merkuri di Indonesia dimulai sejak era 1990an. Dengan naiknya harga emas dan otonomi daerah pasca reformasi, aktivitas penambangan emas dengan penggunaan merkuri juga meningkat. Harga merkuri di masyarakat penambang emas cenderung turun, diduga karena maraknya impor ilegal yang membanjiri Indonesia hingga tahun 2014.

Tetapi sejak tahun 2015 impor merkuri turun drastis karena ada pelarangan impor dari Kementerian Perdangan RI dan adanya larangan ekspor dari Uni eropa dan Amerika Serikat. Pasca pelarangan tersebut, harga merkuri bukannya naik, hal ini karena ditemukannya tambang Cinabar yg mengandung 60 persen merkuri di Seram Bagian Barat, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan. Bahkan pada tahun 2016 Indonesia menjadi salah satu produsen dan ekportir merkuri terbesar di dunia, sekitar 1300 ton ke 13 negara. Tentu tanpa izin!

Dampak dari ledakan penggunaan merkuri, tiadanya aturan yang tegas terhadap peredarannya, serta keterbatasan pengetahuan masyarakat akan bahaya merkuri, menyebabkan merkuri dan senyawa merkuri bukan hanyamencemari wilayah PESK saja, tetapi telah menyebar di berbagai penjuru tanah air.

Dari berbagai penelitian dan aksi yang dilakukan oleh berbagai lembaga non pemerintah diantaranya Bali Fokus dan Medicus di Banten, Sekotong, Maluku,Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Pantai Kartini bahkan Teluk Jakarta Membuktikan bahwa pencemaran Merkuri dan senyawa Merkuri pada masyarakat dan lingkungan hidup sudah sangat kronis sehingga tidak berlebihan disimpulkan bahwa Indonesia sudah pada tahap​ ​Darurat​ ​Merkuri​.

Beberapa hasil penelitian berikut memberikan gambaran singkat bahwa Indonesia Darurat Merkuri. Kerusakan genetik, saraf, dan organ tubuh sudah sangat banyak ditemui pada masyarakat di berbagai wilayah. Kadar merkuri dalam ikan air tawar di daerah Banten mencapai 1325 ppm, kadar merkuri dalam sampel beras di wilayah Cisitu, Kabupaten Lebak mencapai 1186 ppb dari SNI 50 ppb, kadar Merkuri di sampel darah warga Desa Deboway, Pulau Buru mencapai 127 mikrogram per liter dari nilai rujukan 9 mikrogram per liter. Kadar merkuri dalam sampel darah, urin, rambut orang di daerah pertambangan di Indonesia jauh di atas Philipina, Tanzania dan Zimbabwe.

Dalam Preambule Konstitusi jelas disebutkan bahwa tujuan Pemerintah RI adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Pasal 28 H ayat 1 UUD 1945 menegaskan bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta pelayanan kesehatan adalah hak warga negara.

Berkenaan dengan kewajiban negara tersebut, maka harus segera diambil langkah-langkah kongkrit setelah pengesahan RUU tersebut menjadi Undang-Undang. Pemerintah harus segera menyusun peraturan perundang-undangan serta Rencana Aksi Nasional yang komprehensif, detil, implementatif dan mengikat segenap pemangku kepentingan.
Pemerintah harus segera menyusun dan menerapkan kebijakan sebagai berikut:

1. Mengatur dan mengendalikan penambangan Cinabar, produksi dan perdagangan
Merkuri tanpa izin.

2. Mencari solusi teknologi dan penggunaan bahan pengganti Merkuri yang lebih aman
terutama di sektor pertambangan dan kesehatan.

3. Meningkatkan pengendalian emisi merkuri pada sektor-sektor yang berkontribusi besar
lainnya Pembangkit Listrik Tenaga Fosil dan industri.

4. Menangani lahan dan masyarakat yang sudah terpapar dan petensial terpapar
pencemaran Merkuri dan Senyawa Merkuri. [rtw/rmol]

Penulis adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional


Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 16:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 14:00:00

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

Soal Reklamasi, Anies Jangan Cuci Tangan

SELASA, 07 NOVEMBER 2017 , 20:00:00

Effendi Simbolon di Warkop Siantar

Effendi Simbolon di Warkop Siantar

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 , 16:55:00

Cek Senjata Personil

Cek Senjata Personil

KAMIS, 12 OKTOBER 2017 , 20:36:00

Press Conference AKSIS 2017

Press Conference AKSIS 2017

SENIN, 06 NOVEMBER 2017 , 17:19:00