Di Rumahku, Setiap Hari Berkibar Bendera Setengah Tiang!

Oleh: Serangan Fajar

OPINI  JUM'AT, 06 OKTOBER 2017 , 15:45:00 WIB

Di Rumahku, Setiap Hari Berkibar Bendera Setengah Tiang!

Net

RMOLSumut. Bendera setengah tiang, di berbagai negara, termasuk di Indonesia diartikan sebagai simbol untuk memperingati "hari penting, penuh duka". Tapi tetap saja, penetapan hari-hari tertentu yang diwajibkan untuk mengibarkan bendera setengah tiang itu, dilakukan oleh penguasa di suatu negara.
Untuk hal ini, perlu ditekankan juga, penguasa memiliki kewenangan yang besar untuk meluruskan sejarah, dan sebaliknya. Jadi, bisa dikatakan bahwa asal muasal pengibaran bendera setengah tiang atau penetapan hari sakral apapun, berpotensi disusupi aspek subjektifitas.

Tidak ada yang salah memang. Sebab, pemenang dapat semuanya, struktur dan infrastruktur.

Di Indonesia sendiri, pengibaran bendera setengah tiang masih dikelilingi oleh perdebatan atas kepatutannya. Bahkan tak hanya pengibaran bendera setengah tiang, untuk yang satu tiang pun, juga ada yang menolak. Ya, dalam kata  lain, ada juga yang menolak pengibaran bendera sama sekali.

Kondisi itu tidak dapat semena-mena di-"kambing-hitam"-kan pada oknum-oknum terkait. Sejatinya negara merupakan suatu klausulitas sistem yang nyata. Suatu negara, untuk menetapkan suatu hal sebagai pandangan hidup (baca: ideologi), mestilah berangkat dari kesadaran dan pengetahuan masyarakatnya.

Jika negara, telah menciptakan dan menjalankan pandangan hidupnya dengan baik dan benar, maka kondisi yang telah digambarkan di atas rasanya sangat sulit untuk terjadi. Jika pun terjadi, dapat dipastikan bahwa terdapat intervensi kuat yang dilakukan oleh asing.

Kita kembali ke pembicaraan bendera setengah tiang tadi. Berbicara tentang ini, tergerak tangan ini untuk menuliskan, bahwa di rumah kami, terpasang bendera setengah tiang, setiap harinya.

Mengapa? Karena memang jelas, dan rasa-rasanya berbagai pihak sepakat bahwa pengibaran bendera setengah tiang, adalah penyimbolan dari hari penting yang juga berstatus sebagai hari duka.

Bagi kami, generasi yang mencapai umur dewasa di era pasca reformasi, selalu berduka, setiap hari. Senyata-nyatanya, tidak pernah terbukti retorika para pendahulu, pejuang reformasi, bahwa reformasi adalah pintu gerbang bagi masyarakat untuk mencapai kesejahteraan.

Lihat saja di sekeliling rumah kami, sawah-ladang-kebun penghasil berbagai bahan pokok, yang dulu dapat dibanggakan kepada masyarakat di berbagai negara, sekarang sudah berubah menjadi rumah penghasil polusi (baca: pabrik). 

Lihat juga utang negara kita, sampai saat ini, untuk membayar "bunga"-nya saja, harus mengeluarkan uang ratusan miliar. Tak berbeda dengan sumber daya alam yang sangat kaya ini, hanya dikuasai oleh segelintir orang, tak jarang juga orang asing.

Atau lihat lah TV di rumah kami, isinya "sampah" semua, hampir tidak ada satu pun acara-acara yang dapat menunjang peningkatan kualitas nalar setiap yang melihatnya.

Jadi, berdasarkan ke-subjektif-an kami itu, relakan kami mengibarkan bendera setengah tiang, setiap hari. [***]


Komentar Pembaca
Gubernur DKI Jangan Banyak Pencitraan

Gubernur DKI Jangan Banyak Pencitraan

KAMIS, 19 OKTOBER 2017 , 22:00:00

BAZNAS Layani 1.000 Pengungsi Rohingya

BAZNAS Layani 1.000 Pengungsi Rohingya

KAMIS, 19 OKTOBER 2017 , 20:00:00

Parpol Religius Bakal Tergerus

Parpol Religius Bakal Tergerus

KAMIS, 19 OKTOBER 2017 , 16:00:00

Wisuda Gubernur Tengku Erry Nuradi

Wisuda Gubernur Tengku Erry Nuradi

SENIN, 21 AGUSTUS 2017 , 14:41:00

SK Cagub Golkar

SK Cagub Golkar

SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 16:11:00

Parkir Sembarangan

Parkir Sembarangan

KAMIS, 24 AGUSTUS 2017 , 18:13:00