Anies, Mandela dan Evo Morales: Aspek Teoritik dan Sejarah Perjuangan Pribumi

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

OPINI  KAMIS, 19 OKTOBER 2017 , 17:00:00 WIB

Anies, Mandela dan Evo Morales: Aspek Teoritik dan Sejarah Perjuangan Pribumi

Syahganda Nainggolan

RMOLSumut. Anies Baswedan sudah memulai perjuangan panjang dan berliku ketika mengumumkan rezimnya pro pribumi. Di negara negara bekas jajahan diberbagai belahan dunia seperti Amerika Latin, Afrika dan Asia keinginan pribumi untuk jadi tuan di negeri menjadi isu sentral dan dambaan mayoritas masyarakatnya. Namun, Amy Chua, seorang profesor keturunan China Philipina dari University of Yale melihat pertarungan pribumi saat ini semakin sulit dijaman demokrasi. Menurut Chua, kelompok minoritas diberbagai belahan dunia semakin kaya sejak demokrasi pasar bebas diadopsi mereka. (Chua, World on fire, 2002).

The Economist, sebuah majalah ternama di dunia, 13 tahun lalu menurunkan tulisan investigasi tentang perjuangan pribumi di negara negara latin Amerika yang didominasi kulit putih ( http://www.economist.com/node/2446861 ). Kondisi negara negara latin, dari Bolivia, Peru, Paraguay, Brazilia, Argentina, Equador dlsb. terjebak dalam keterjajahan yang berkelanjutan setelah merdeka dari Sepanyol. Amerika latin yang kaya resources, minyak, gas, timah, emas, hutan dlsb, disedot untuk kemakmuran negara negara barat dan menyisakan kemiskinan bagi kaum pribumi Indian.

Dengan judul "Political Awakening", the Economist mencoba menggambarkan perjuangan bangsa Pribumi di sana terpisah dalam skim demokrasi, Guerilla dan bahkan ada yang menjadi kelompok ekstrimis (dianggap sebagai kartel narkoba). Perjuangan Morales menjadi panutan 45 juta jiwa Indian di Amerika Latin, karena keberhasilannya merebut kekuasaan secara demokratis.

Perjuangan menjadikan pribumi sebagai tuan rumah di negara latin bagi bangsa Indian bukanlah hal mudah. Namun hal itu dapat diatasi dengan 3 hal sbb.: Pertama, perjuangan itu telah menyatukan spirit kepribumian, sosialisme dan sedikitnya dukungan Katolik (teologi pembebasan). Kedua, pengorganisasian rakyat berlangsung lama, khususnya pengorganisasian petani Coca di Bolivia, dan menempuh jalan terjal. Ketiga, tokoh tokoh lintas negara latin saling mendukung bangkitnya kaum pribumi. Ketidakmudahan perjuangan terlihat misalnya,  Evo Morales sendiri, harus mengalami hujatan, penyingkiran politik dan lain sebaginya. Di negara tetangga, ketika dulu di Venezuela, Hugo Chavez, dan Brasil, Lula Da Silva, mengalami pertarungan yang tidak kalah menyakitkan. Chavez pernah disingkirkan Amerika dari kekuasaan.

Meski isu harapan adanya  dominasi pribumi Indian di Amerika Latin masih berlangsung hingga kini, namun ketersingkiran rakyat pribumi di sana tidak lagi terjadi sesukanya. Kehadiran negara dan pemimpin pro pribumi menjadikan mereka lebih bermartabat.


Komentar Pembaca
PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

PAN Setuju Dana Saksi Dibiayai APBN

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 17:00:00

Jokowi-Ma

Jokowi-Ma"ruf Diduga Curi Start Kampanye

KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 13:00:00

#KataRakyat: Jangan Kampanye Negatif

#KataRakyat: Jangan Kampanye Negatif

RABU, 17 OKTOBER 2018 , 19:00:00

Perkasa Serahkan Bantuan

Perkasa Serahkan Bantuan

KAMIS, 30 AGUSTUS 2018 , 12:57:00

Menuju Pelantikan

Menuju Pelantikan

RABU, 05 SEPTEMBER 2018 , 10:07:00

Dijemput KPK

Dijemput KPK

RABU, 26 SEPTEMBER 2018 , 13:25:00



The ads will close in 10 Seconds