Pelabelan "Batak" sebagai Identitas Dikonstruksi Oleh Asing

Budaya  SELASA, 28 NOVEMBER 2017 , 15:21:00 WIB | LAPORAN:

Pelabelan

Foto/RMOL Sumut

RMOLSumut. Penggunaan istilah atau pelabelan "Batak" sebagai identitas untuk sejumlah kelompok masyarakat di Sumatera Utara, saat ini sedang mengalami perdebatan.
Sejumlah orang dari suku Karo, hingga suku Mandailing, yang sering dilabeli beridentitas "Batak" itu, menegaskan bahwa mereka bukan merupakan bagian dari "Batak".

Dalam diskusi terbatas yang digelar oleh Forum Batak Islam (FBI) dan Perhimpunan Literasi Nusantara (Pelita) bertema "Identitas Batak" di Medan, Senin (27/11), terdapat kesimpulan bahwa penggunaan istilah atau pelabelan "Batak" sebagai identitas kelompok masyarakat di Sumatera Utara, dikonstruksi oleh pihak dari luar (asing).

Berdasarkan teori, disampaikan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Shohibul Anshor Siregar yang dalam diskusi itu menjadi pembicara inti, terbentuknya identitas untuk suatu kelompok masyarakat dapat terjadi karena dua faktor, yaitu faktor objektif dan subjektif.

"Identitas adalah sesuatu yang dinamis. Ada dua unsur pembentuknya, faktor objektif dan subjektif. Ada identitas itu, yang dikonstruk bukan oleh orang dalam, tapi orang luar," katanya.

Sedangkan pembahasan tentang asal-muasal terbentuknya identitas "Batak" itu, ungkap Shohibul Anshor, telah muncul sejak tahun 2 masehi.  

"Dalam kasus batak ini telah terbuktikan oleh para pakar yang membidangi masalah ini sejak dahulu kala. Bahkan sejak 2 M, sudah ada data tentang siapa yang mengkonstruk batak itu sebagai pelabelan bagi kelompok di satu tempat tertentu, khsusnya di Tapanuli dan daerah pegunungan yang lain," jelasnya.

Setelah kolonialisme dan misionarisme masuk ke Sumatera Utara, identitas "Batak" tersebut semakin kuat.  

"Jadi pengaruh kolonialisme dan misionarisme sangat besar terhadap diversifikasi pemahaman terhadap batak," sebut Shohibul Anshor.

Pada saat misionaris tersebut masuk ke Sumatera Utara, pelabelan "Batak" kemudian lebih diidentikkan dengan kelompok masyarakat yang sudah beragama Kristen.   

"Hingga pada era masuknya para misionaris, semakin  diperkuat ini sebagai sebuah identitas. Dan lebih didekatkan kepada karakteristik pelabelan terhadap kelompok yang sudah beragama Kristen," ungkap Shohibul Anshor. [sfj]


Komentar Pembaca
Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

Adhie Massardi - Unegh Unegh (Bag.1)

SELASA, 19 JUNI 2018 , 11:00:00

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

SENIN, 18 JUNI 2018 , 09:00:00

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!

KAMIS, 14 JUNI 2018 , 12:00:00