Martabat Peradaban Milenial

Catatan Irfan (CAIR)  KAMIS, 04 JANUARI 2018 , 15:35:00 WIB | OLEH: MUHAMMAD IRFAN

Martabat Peradaban Milenial
SAYA jadi teringat tentang bunyi sila ke dua, yaitu "kemanusiaan yang adil dan beradab".  Bunyi sila tersebut mensiratkan tentang betapa kemanusiaan harus mendasari jiwa-jiwa bangsa ini, dimana kemanusiaan tersebut dibangun oleh kesadaran atas keadilan yang berkeadaban. Beradab dalam sila ini menurut saya justru lebih dekat ke peradaban daripada adab itu sendiri.
Zaman selalu berubah dari waktu ke waktu turut serta Kebudayaan-kebudayaan baru pun muncul sehingga memicu pergantian Peradaban. Setiap peradaban sudah barangtentu akan berdiri dengan kokoh ketika martabat mampu dijaga oleh manusia-manusia pada peradaban tersebut.

Saat ini kita memasuki era milenial. Sebuah peradaban dimana laju arus informasi menguasai seluruh dimensi kehidupan. Arus informasi yang tidak terbendung ini lahir di ruang-ruang yang awalnya di anggap sebagai sesuatu yang maya tetapi ternyata ruang ini eksis sebagai satu ruang baru yang peranan penting memicu berbagai reaksi di dunia nyata. Ruang tersebut bernama Media Sosial.

Di dalam keluarga saya tidak satu pun anggota keluarga yang tidak memakai media sosial. Walaupun ibu saya sendiri tidak mempunyai akun media sosial tetapi tetap saja ia memakai media sosial milik bapak saya. Usia kedua orang tua saya adalah sekitar 50 tahun-an. Usia orang tua saya ini menjadi bukti jika media sosial telah merambah segala usia.

Di media sosial setiap orang tumpah ruah, tidak peduli latar belakang kelas sosial, intelektualitas, bahkan keshalehan. Media sosial adalah ruang dimana terjadi perselisihan seorang yang pendidikannya sudah tinggi tetapi tetapi akan larut dalam sebuah narasi saling benci di media sosial.

Sebelum media sosial masuk dan begitu mengakar di tengah-tengah kita. Saya kira kita lupa mengantisipasi sehingga media sosial yang seharusnya berperan saling menghubungkan dan mengeratkan pertemanan menjadi pemicu keretakkan hubungan dan perselisihan.
    
Media sosial yang awalnya kita anggap mampu kita kuasai dengan baik pada akhirnya telah benar-benar menguasai kita. Ia adalah surga informasi. Di tengah-tengah belum lulusnya kita atas ujian melawan ego diri dalam menggunakan media sosial, kita sudah terlanjur masuk dalam hiruk pikuk yang ada media sosial.
   
Saya jadi ingat riwayat hidup seorang samurai yang tidak boleh menggunakan pedangnya untuk berduel. Keahliannya menggunakan pedang tidak menjadikannya bebas melakukan apapun.  Bagi seorang samurai pedang adalah martabatnya. Sebuah martabat tidak mungkin digunakan untuk mencelakakan orang lain. Samurai menggunakan pedangnya hanya untuk melindungi kekaisarannya, dimana di sana ada begitu banyak rakyat yang juga ia lindungi.
   
Saya sebagai seorang yang jawa, mewarisi keris sebagai martabat saya sebagai kejawaan saya. Sama halnya pedang seorang samurai, eksistensi keris dijunjung tinggi. Keris adalah simbol kebesaran kami masyarakat jawa.
   
Uraian mengenai martabat seorang samurai dengan pedangnya, orang jawa dengan kerisnya adalah sebuah ajakan dari saya untuk mencoba bertanya kembali ke diri sendiri, sesungguhnya hari ini apa martabat yang harus saya juga.
   
Rasa-rasanya media sosial lah jawabannya. Menempatkan media sosial sebagai martabat di peradaban milenial ini akan membuat kita lebih hati-hati lagi menggunakannya.
Seorang Samurai harus melewati proses-proses berlatih yang luar biasa untuk berhak memiliki pedang, seorang Jawa butuh menjadi ningrat untuk diwarisi keris.

Kita hari ini yang kesemuanya telah memegang media sosial masing-masing masikah akan merasa tidak perlu melewati banyak proses belajar untuk benar-benar bisa mengendalikan diri dalam penggunaan media sosial. Dimana jika bisa mencermati lebih mendalam, di Peradaban Milenial ini media sosial layak sebagai martabat yang harus kita jaga sebagai bangsa Indonesia yang berdasar kepada Kemanusian yang adil dan beradab. [cair]


Komentar Pembaca
The Greatest Showman : Sosok P.T Barnum yang Hilang
Mengapa Marah?

Mengapa Marah?

RABU, 10 JANUARI 2018

Cagubsu dan Wagubsu dalam Karakter Mobile Legend
Membaca itu ?

Membaca itu ?

KAMIS, 04 JANUARI 2018

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JUM'AT, 19 JANUARI 2018 , 19:00:00

Tak Ada Verifikasi Faktual Dalam UU Pemilu

Tak Ada Verifikasi Faktual Dalam UU Pemilu

JUM'AT, 19 JANUARI 2018 , 17:00:00

Jokowi Manfaatkan Golkar

Jokowi Manfaatkan Golkar

JUM'AT, 19 JANUARI 2018 , 15:00:00

Ucapan Selamat Tahun Baru 2018

Ucapan Selamat Tahun Baru 2018

JUM'AT, 08 DESEMBER 2017 , 11:37:00

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

MINGGU, 07 JANUARI 2018 , 14:08:00

Ketum Hanura di Pesta Bobby-Kahiyang

Ketum Hanura di Pesta Bobby-Kahiyang

JUM'AT, 24 NOVEMBER 2017 , 15:37:00