Mengapa Marah?

Catatan Irfan (CAIR)  RABU, 10 JANUARI 2018 , 15:37:00 WIB | OLEH: MUHAMMAD IRFAN

Mengapa Marah?
SAAT saya harus menerima kenyataan tidak bisa bertemu dengan jasad nenek ketika almh wafat beberapa hari lalu, saya marah-marah dengan keluarga yang di sana. Sedari awal jenazah nenek akan di makamkan sesudah shalat jumad, dan saya mengamini hal tersebut karena nantinya jenazah akan bisa dishalatkan beramai-ramai setelah shalat jumad di Masjid bersama jamaah shalat jumad yang lain.
 Perubahan rencana ini membuat saya marah besar di sana. Om saya menjelaskan keinginan yang sama, tetapi desakan masyarakat untuk menguburkannya sebelum shalat jumad tidak bisa ia bendung. Berulang kali dia minta maaf kepada saya dan sekeluarga. Shalat jumad di sana menjadi pengalaman pertama saya shalat jumad dengan jumlah jamaah yang tak terlalu banyak dan masjid sangat lenggang. Dari situ saya jadi mengerti, kalau begini memang akhirnya di luar bayangan saya.
    
Saya marah-marah karena memakai cara pandang saya. Tetapi melihat kenyataan yang saya jumpai kala shalat jumad itu mendamaikan kemarahan saya.
   
Saya sadari saat itu melihat sesuatu berdasarkan ukuran ideal saya sendiri, tidak melihat fakta yang terjadi di sana.
   
Persoalan-persoalan yang hari menimpa Indonesia membesar salah satu sebabnya  karena ekspresi marah ketika kita menyikapinya. Banyak persoalan yang sebenarnya  menyinggung hal-hal yang tidak terlalu sensitif tapi karena ekspresi marah tadi membuat segalanya melebar.
   
Misalnya persoalan Stand Up Ge yang dianggap menghina Islam. Sejatinya masalah Ge tidak se kompleks kasus Ahok yang jelas pernyataannya mengarah ke salah satu ayat Al-Quran karena dia menyebutkan dengan gamblang Surah Al-Maidah ayat 52.
   
Persoalan Ge adalah bentuk dari  Ge yang tidak terlalu matang mempersiapkan bahan stand up nya. Ia ingin membicarakan hal sensitif tetapi tidak mempersiapkannya dengan matang. Dalam hal ini Ge tidak sedang merendahkan Islam, kegelisahan Ge sebenarnya mewakili kegelisahan banyak orang tetapi dengan ketidak hati-hatiannya itu ia menjadi senjata makan tuan buatnya.
   
Tambah runyamnya persoalan Ge hari ini karena kemarahan itu datang tidak hanya dari kubu yang menganggap Ge telah menghina Islam tetapi juga dari kubu pendukung Ahok yang mendesak untuk tidak ada reaksi berbeda antara kasus Ge dengan kasus Ahok.
   
Jika persoalan Ge menistakan Al-Quran. Mengapa aksi bela islam tidak dilakukan kembali? . Hal ini menjadi tuduhan kuat pendukung Ahok jika persoalan kemaren ditunggani banyak kepentingan.
   
Kemarahan yang dibesar-besarkan menjadi satu ancaman yang bisa sajak kelak akan membuat bangsa ini menjadi terpecah belah. Kemarahan kaum toleran terhadap kaum intoleran tidak akan membuat toleransi kita semakin terjaga. Kemarahan orang-orang Kiri kepada orang-orang Kanan juga tidak membuat semuanya berkumpul di tengah, mengokohkan pondasi Persatuan.
   
Kemarahan ini merupakan bentuk dari konsekuensi betapa bangsa ini telah diisi oleh rakyatnya semakin pintar. Kemudahan akses untuk belajar membuat pengetahuan-pengetahuan yang kita ingin didapatkan. Sayangnya pengetahuan-pengetahuan ini lah yang membuat kita semakin percaya diri untuk bereaksi demikian. Marah-marah karena kita merasa sangat paham dengan persoalan yang ada.
   
Saya jadi ingat sebuah petuah. Pintar saja tidak cukup kalau kamu tidak belajar menjadi bijaksana. [cair]









 

Komentar Pembaca
The Greatest Showman : Sosok P.T Barnum yang Hilang
Cagubsu dan Wagubsu dalam Karakter Mobile Legend
Martabat Peradaban Milenial

Martabat Peradaban Milenial

KAMIS, 04 JANUARI 2018

Membaca itu ?

Membaca itu ?

KAMIS, 04 JANUARI 2018

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JUM'AT, 19 JANUARI 2018 , 19:00:00

Tak Ada Verifikasi Faktual Dalam UU Pemilu

Tak Ada Verifikasi Faktual Dalam UU Pemilu

JUM'AT, 19 JANUARI 2018 , 17:00:00

Jokowi Manfaatkan Golkar

Jokowi Manfaatkan Golkar

JUM'AT, 19 JANUARI 2018 , 15:00:00

Ucapan Selamat Tahun Baru 2018

Ucapan Selamat Tahun Baru 2018

JUM'AT, 08 DESEMBER 2017 , 11:37:00

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

MINGGU, 07 JANUARI 2018 , 14:08:00

Ketum Hanura di Pesta Bobby-Kahiyang

Ketum Hanura di Pesta Bobby-Kahiyang

JUM'AT, 24 NOVEMBER 2017 , 15:37:00