Bung Karno Mestinya Jadi Kiblat Kidz Zaman Now

OPINI  SABTU, 03 FEBRUARI 2018 , 16:05:00 WIB

PRESIDEN Indonesia, Sukarno mestinya bisa menjadi kiblat pemuda hari ini atau akrab dengan istilah Kidz Zaman Now. Meski Sukarno menjalani masa mudanya di masa kolonial atau zaman Old, tapi figur seorang Sukarno, lebih tepatnya Sukarno muda masih sangat relevan menjadi Role Model bagi pemuda di era kekinian.
Bung Karno biasa ia disebut, tumbuh menjalani siklus masa mudanya seperti pemuda pada umumnya. Ia misalnya mengalami yang namanya pubertas. Seperti diceritakan olehnya melalui buku Otobiografinya Penyambung Lidah Rakyat. Di usianya yang menginjak  14 tahun, ia mulai menyukai lawan jenis. Bung Karno bercerita bahwa ia jatuh cinta lebih tepatnya cinta monyet kepada seorang gadis Belanda bernama Rika Meelbuysen.

Bung Karno muda yang sangat hobi menonton film, sesekali juga datang ke bioskop untuk menonton film. Bung Karno juga pergi menonton sirkus bila mana di daerah tempat dia tinggal datang rombongan sirkus.

Meskipun Bung Karno sendiri mengakui, bahwa masa mudanya tidak banyak ia isi dengan hal-hal berbau kesenangan, karena keterbatasan ekonomi. Tapi yang mesti dicatat bahwa Bung Karno melewati siklus masa muda layaknya pemuda kebanyakan.

Jika Bung Karno menjalani kehidupan sebagai layaknya pemuda pada umumnya. Lantas mengapa Bung Karno mesti jadi Role Model Kidz Zaman Now?

Bung Karno memang menjalani siklusnya dengan wajar, tapi sebagai sosok seorang pemuda Bung Karno jelas berbeda dari pemuda kebanyakan. Di saat pemuda seumurnya masih berpikir tentang masa depan pribadinya, Bung Karno muda sudah berpikir tentang masa depan bangsanya.

Bung Karno mulai menceburkan diri dalam pergolakan tentang kebangsaan sejak ia mulai bersekolah di Hogere Burgerschool di Surabaya dan idekos di rumah Tjokroaminoto selaku pemimpin Sarekat Islam, organisasi politik terbesar pada saat itu.

Di Surabaya pula, Bung Karno muda yang saat itu baru berusia 16 tahun mulai aktif berorganisasi. Ia lantas mendirikan Tri Koro Darmo, sebagai perkumpulan politik yang pertama kali ia dirikan. Bung Karno muda juga aktif dalam organisasi Jong Java.

Ia juga mulai aktif mendampingi Tjokro guru sekaligus mertuanya berkeliling, bertemu banyak orang dan bahkan pada suatu ketika ia harus menggantikan Tjokro dalam sebuah pertemuan. Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat, Bung Karno menyebut Surabaya, kota tempatnya tinggal sebagai dapur nasionalisme. Karena di sana perhatian Bung Karno terhadap bangsanya mulai tumbuh.

Di Bandung, saat Bung Karno melanjutkan pendidikannya di kampus yang sekarang kita kenal dengan Institut Teknologi Bandung perhatiannya terhadap nasionalisme kian menjadi.

Tahun 1927 saat usianya baru 26 tahun, Bung Karno muda mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Melalui PNI secara terang-terangan menyerukan Indonesia merdeka.

Pergerakannya bersama PNI bahkan membawa seorang Bung Karno muda harus merasakan Penjara Banceuy. Di penjara itulah Bung Karno kemudian menyusun sebuah pledoi yang amat fenomenal dengan judul Indonesia Menggugat yang ia bacakan di hadapan hakim Pengadilan Belanda. Bung Karno juga harus merasakan dibuang ke Ende karena perjuangannya semasa muda. Boleh dibilang masa muda seorang Sukarno habis untuk berjuang, berjuang untuk bangsanya.

Kelak, ketika Bung Karno tidak lagi muda, tepatnya ketika sudah menjadi Presiden Indonesia, Sukarno masih menaruh perhatian terhadap kaum muda. Ia yang semasa muda aktif dalam pergolakan kebangsaan, percaya bahwa pemuda merupakan kekuatan luar biasa yang dimiliki sebuah bangsa. Sampai hari ini, kemudian kita kenal kata-kata Bung Karno "Beri aku sepuluh pemuda maka akan aku guncang dunia,".

Hari ini, sosok Sukarno muda tentu masih sangat relevan bagi bangsa Indonesia. Di tengah republik yang sebenarnya dalam kondisi tidak baik. Indonesia butuh para pemuda yang mau menceburkan dirinya dalam persoalan-persoalan kebangsaan hari ini. Dan sampai kapanpun, figur Sukarno muda akan tetap layak di jadikan Role Model di era apapun.

Kini, pilihan ada pada Kidz Zaman Now. Apakah akan mau menjadi seorang Sukarno muda atau tidak. Menjadi Sukarno muda, bukan berarti mengcopy paste, tapi bagaimana spirit seorang Sukarno, nilai-nilai yang Sukarno perjuangkan semasa muda bisa diserap dan diaplikasikan dalam konteks kekinian.

Apakah itu berat seperti rindu kata Dilan? Ah, bukankah yang lebih berat itu seharusnya melihat negara salah arah dan rakyatnya menderita?

Ivan Faizal Affandi
Pengasuh Sukarno.org


Komentar Pembaca
Rupiah Terpuruk, Utang Bertumpuk!

Rupiah Terpuruk, Utang Bertumpuk!

KAMIS, 24 MEI 2018 , 17:00:00

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi

KAMIS, 24 MEI 2018 , 15:00:00

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

Elza Syarief - Keadilan (Bag.4)

KAMIS, 24 MEI 2018 , 14:00:00

Hari Pertama MTQ ke 51 dan FSN ke 40 Kabupaten Deli Serdang
Persija Menang Telak

Persija Menang Telak

RABU, 11 APRIL 2018 , 02:41:00

Warga Medan Deli Antisipasi Teroris

Warga Medan Deli Antisipasi Teroris

SENIN, 14 MEI 2018 , 12:36:00