Stop Politisasi Olahraga

Oleh: La Ode Mutakhir Bolu

OPINI  RABU, 21 FEBRUARI 2018 , 21:43:00 WIB

Stop Politisasi Olahraga
PRIIITTT...prittt...priitttt...!!!
Wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final Piala Presiden 2018 yang dimenangkan oleh Tim Macan Kemayoran Persija Jakarta dengan skor 3-0 melawan Tim Serdadu Tridatu Bali United. Pada saat akan dilaksanakannya penyerahan piala pemenang oleh Bapak Presiden Joko Widodo, pembawa acara mengundang Bapak Presiden untuk menyerahkan Piala. Tampak Presiden Jokowi dan beberapa penonton kehormatan yang duduk di podium kehormatan juga ikut turun ke lapangan mendampingi Bapak Jokowi.

Terjadi suatu pemandangan yang di beberapa waktu kemudian banyak mengundang perhatian para netizen, yaitu ketika paspampres terlihat menghalangi Gubernur DKI Jakarta Bapak Anis Baswedan yang hendak mendampingi Presiden Jokowi turun ke lapangan untuk penyerahkan piala presiden.

Tidak sedikit netizen yang berkomentar bahwa tindakan paspampres ini adalah bentuk dari kesalahan prosedural protokoler sebagaimana yang diatur dalam UU tentang Keprotokolan. Bahkan lebih jauh dinyatakan oleh para netizen bahwa tindakan paspampres ini dianggap sebagai sebuah kesengajaan untuk menghalangi  Gubernur Anis Baswedan mendampingi Presiden Jokowi dalam menyerahkan piala kepada pemenang.

Akibat kejadian ini, untuk beberapa waktu pembicaraan seputar penghalangan ini menjadi viral di media sosial. Bahkan pembicaraan bernada politik seputar kejadian ini terlihat memiliki intens yang lebih tinggi daripada pembicaraan seputar olahraga nya sendiri. Pada kesempatan ini, dari sudut pandang sebagai pelaku dan pencinta olahraga, penulis tidak bermaksud membahas lebih jauh seputar kejadian penghalangan tersebut. Penulis lebih tertarik memberikan pandangannya bahwa saat ini dunia politik praktis sudah begitu jauhnya menintervensi dunia olahraga tanah air.

Intervensi panggung politik ke dalam panggung olahraga

Dalam sebuah kegiatan olahraga biasanya terdapat podium kehormatan yang merupakan tempat menonton bagi mereka yang dianggap terhormat, yaitu para tamu kehormatan dan mereka yang berjasa atas terselenggaranya kegiatan olahraga tersebut. Dikarenakan banyaknya aktor politik yang terlibat sebagai petinggi organisasi cabang olahraga ataupun panitia kegiatan olahraga, yang dengan posisi dan kedudukannya tersebut memberikan mereka posisi tempat duduk di podium kehormatan, menyebabkan podium kehormatan ini seakan-akan menjadi panggung politik.

Sekarang mari kita kembali ke kejadian pada malam itu. Presiden Jokowi, Gubernur Anis Baswedan, Ketua SC Maruarar Sirait dan juga beberapa tamu kehormatan yang lain adalah juga merupakan aktor-aktor politik praktis. Mereka mengikuti jalannya pertandingan dari podium kehormatan. Sampai di sini semuanya masih normal-normal saja, karena arena pertandingan yang merupakan panggung olahraga masih steril dari panggung politik. Perhatian dari seluruh yang hadir masih tertuju pada permainan sepakbola yang diperagakan oleh para pemain, adu taktik para pelatih dan juga kualitas wasit dalam memimpin pertandingan. Arena pertandingan menjadi panggung bagi mereka untuk menyajikan tontonan yang menarik bagi segenap yang hadir, termasuk bagi mereka yang duduk di podium kehormatan.

Titik krusial terjadi ketika para aktor politik hendak memasuki panggung olahraga, yaitu ketika secara fisik aktor politik berada di atas arena pertandingan. Malam itu terjadi ketika akan dilaksanakannya penyerahan piala kepada pemenang. Untuk sesaat panggung olahraga diintervensi oleh kehadiran aktor politik yang tentunya juga menjadi perhatian dari para penonton. Sebaiknya di masa yang akan datang, penyerahan piala pemenang bisa dilakukan di podium kehormatan saja, sehingga panggung olahraga bisa tetap menjadi panggungnya para aktor olahraga. Mereka layak menjadi satu-satunya pusat perhatian dari para penonton, bukan hanya dikarenakan mereka telah mempersembahkan tontonan yang menarik, akan tetapi lebih jauh lagi sebagai bentuk penghormatan karena mereka telah mencurahkan waktu dan tenaga untuk mempersiapkan diri mereka dalam mengarungi jalannya kejuaraan tersebut dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas hingga akhirnya bisa tampil di pertandingan puncak.

Intervensi aktor politik di kepengurusan organisasi ataupun kepanitiaan kegiatan olahraga

Dalam kegiatan olahraga tidak jarang juga menghadirkan penonton dalam jumlah yang sangat besar. Jumlah massa yang banyak tersebut adalah salah satu daya tarik mengapa dunia politik praktis selalu berusaha memunculkan simbol-simbolnya di arena olahraga, ataupun sebagai ajang untuk memperkenalkan/mendekatkan mereka kepada publik (penonton). Karenanya, adalah hal yang lazim dijumpai ketika aktor politik menjadi petinggi organisasi olahraga ataupun panitia sebuah kegiatan olahraga, dengan argumen bahwa mereka memiliki networking ataupun finansial yang sangat dibutuhkan untuk memajukan cabang olahraga tersebut ataupun demi kesuksesan suatu kegiatan olahraga. Pertanyaan pertama, apakah tidak ada pelaku olahraga yang memiliki jiwa organisasi dan sanggup mengisi posisi pimpinan suatu kepengurusan organisasi ataupun kepanitiaan kegiatan olahraga? Pertanyaan kedua, apakah para aktor politik rela menjadi pendukung utama, aktor di belakang layar, bagi para pelaku olahraga dalam mengisi posisi-posisi di atas, sehingga dengan bantuan networking dan finansial yang mereka miliki bisa tetap menjamin kemajuan cabang olahraga tersebut ataupun kesuksesan suatu kegiatan olahraga?

Meskipun masa waktu  sebagai olahragawan aktif adalah masa waktu yang pendek bagi seorang olahragawan, tetapi dunia olahraga secara keseluruhan memiliki masa waktu yang panjang. Dalam perjalanannya, cepat atau lambat, seorang olahragawan aktif biasanya melihat dan mencari profesi-profesi lainnya di dunia olahraga yang cocok bagi mereka. Tidak jarang justru pencarian posisi-posisi baru ini sudah terjadi di fase awal ketika mereka masih menjadi olahragawan yunior. Ada yang memilih menjadi pelatih, manajer, pengamat, komentator, wasit, pencari bakat, pebisnis di dunia olahraga dan banyak lagi profesi-profesi lainnya di seputar dunia olahraga. Seiring dengan aktifitas mereka sebagai olahragawan aktif, mereka mendapatkan pembekalan, pendidikan yang tersertifikasi dalam rangka mempersiapkan mereka untuk mengisi profesi-profesi berikutnya tersebut. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan pertama di atas, yaitu tersedianya pelaku olahraga yang memiliki kemampuan organisasi yang mumpuni untuk mengisi posisi pimpinan cabang olahraga ataupun kepanitiaan kegiatan olahraga.

Sekarang tinggal bagaimana untuk menjawab pertanyaan kedua di atas. Meskipun sangat berat untuk memisahkan antara dunia olahraga dan dunia politik, kita berharap agar cepat atau lambat segala urusan olahraga bisa menjadi panggungnya para pelaku olahraga, baik sebagai olahragawan aktif maupun sebagai olahragawan pasif. Dan untuk ini semua, sangat dibutuhkan sebuah kerelaan yang tinggi dari para aktor politik untuk mundur selangkah, cukup sebagai pendukung utama ataupun aktor di belakang layar, dan menyerahkan posisi-posisi pimpinan di tangan para pelaku olahraga. Jika para aktor politik masih terus mengisi posisi-posisi di atas, apalagi jika sampai melihat posisi tersebut layaknya posisi politik yang harus diisi dari kalangan politik karena memiliki nilai politis yang strategis, maka sesunggahnya dunia politik sudah terlalu jauh Off Side” menintervensi dunia olahraga.
Priiiitttttttt….!!!


*Pemilik Lisensi Wasit dan Sertifikat Pemimpin Tim Sepakbola Yunior sampai dengan umur 18 tahun dari Asosiasi Sepakbola Jerman (Deutscher Fußball Bund-DFB). Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman 2010-2012 (PPI Jerman)

















Komentar Pembaca