>

Benarkah Indonesia Butuh Pemimpin Baru?

OPINI  KAMIS, 22 FEBRUARI 2018 , 14:09:00 WIB

Benarkah Indonesia Butuh Pemimpin Baru?

Ilustrasi/Net

Begitulah sepenggal kisah singkat kondisi bangsa ini yang boleh saya gambarkan dalam sebuah bentuk pertanyaan. Tentu saya boleh menggambarkan itu berdasarkan penilaian saya dan ini bukan ujaran kebencian yang bisa dipidana, tapi ini sebuah penglihatan dari sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang penguasa.

Ketika sudut pandang penguasa menggambarkan dirinya hebat dan berhasil serta mencapai kesuksesan yang melampaui para pemimpin terdahulu, maka saya pun boleh menggambarkan pemimpin dan penguasa sekarang ini gagal, tidak sukses, dan pemerintahan paling buruk dari seluruh pemerintahan sebelumnya. Atau dengan Bahasa agak halus, bahwa pemerintah ini hanya besar oleh cerita-cerita hebat dan narasi - narasi fiksi yang dibangun jauh melampui realitas kehidupan berbangsa dan bernegar*.

Lantas dari sepenggal sudut pandang itu, benarkah Indonesia sudah saatnya mengganti pemimpin? Benarkah Indonesia butuh pemimpin baru? Pemilu 2019 sudah didepan mata dan memulai tahapan-tahapannya, tentu penggantian pemimpin yang dimaksud adalah melalui Pemilu dan bukan dijatuhkan ditengah jalan. Namun bila jatuh sendiri, itu hal lain dan bukan perbuatan makar.

Jika jawaban pertanyaan diatas adalah Indonesia belum butuh pemimpin baru, maka sebaiknya Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak perlu melakukan tahapan-tahapan pemilu yang menghabiskan uang trilliunan rupiah. Cukup menyiapkan sebuah surat keputusan memperpanjang jabatan presiden, murah biayanya dan akan menghemat puluhan trilliun yang bisa digunakan setidaknya membantu dana kesehatan masyarakat.

Namun jika jawabannya adalah Indonesia perlu pemimpin baru, maka pertanyaan selanjutnya adalah Siapa orangnya? Ini jauh lebih menarik dibahas daripada membahas narasi-narasi hebat dan cerita-cerita fiksi tentang keberhasilan penguasa. Bila melihat opini publik saat ini pertarungan masih diantara Dua nama Pilpres 2014 silam yang menyisakan polarisasi keras antar anak bangsa. Namun bila melihat realitas lanjutan mengacu pada hasil survei lembaga-lembaga survei, ternyata banyak yang tak ingin lagi Jokowi dan juga tak mau Prabowo. Ada sekitar 30 % lebih kelompok ini. Maka kemana mereka akan mencari harapan baru dalam demokrasi yang harapannya akan menghasilkan Pemimpin Baru?


Komentar Pembaca
Mandailing Style

Mandailing Style

SENIN, 22 APRIL 2019

Pencoblosan Ngawur Di Malaysia

Pencoblosan Ngawur Di Malaysia

SABTU, 13 APRIL 2019

Inovasi Sandi Merambat Ke Kaum Milenial
Presiden Sebaiknya Keluarkan Instruksi dan Maklumat
Saatnya Dua Jenderal Umat Turun Gunung
Dampak Elektoral Kasus Romi

Dampak Elektoral Kasus Romi

MINGGU, 24 MARET 2019

Jika KPU Tak Netral, People Power Bisa Terwujud
Warga Madura Tawarkan Senjata Untuk La Nyalla

Warga Madura Tawarkan Senjata Untuk La Nyalla

SENIN, 22 APRIL 2019 , 15:00:00

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

JUM'AT, 19 APRIL 2019 , 21:00:00

Rachmawati Soekarnoputri Rangkul Golkar Dan PPP
Youth Enterpreneur Summit 2019

Youth Enterpreneur Summit 2019

SENIN, 08 APRIL 2019 , 11:26:00



The ads will close in 10 Seconds