>

Djarot Tetap Jawa, Penyematan Simbol Adat Lain Wujud Ketertarikan Masyarakat

Pilkada Sumut 2018  SENIN, 09 APRIL 2018 , 11:25:00 WIB | LAPORAN: FAJAR SIDIK

Djarot Tetap Jawa, Penyematan Simbol Adat Lain Wujud Ketertarikan Masyarakat

Sutrisno Pangaribuan

RMOL. Mendapat dukungan dari rakyat, merupakan salah satu tujuan dari kontestasi politik. Kemenangan tentu diharapkan oleh setiap pasangan dalam pilkada. Namun kelanjutan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kebhinnekaan jauh lebih penting.

Hal tersebut dikatakan oleh anggota Tim Pemenangan Djarot Saiful-Sihar Sitorus (DJOSS), menanggapi perdebatan yang muncul di balik rencana pemberian gelar Datuk kepada Djarot Saiful.

"Kita ingin menang, tetapi dengan cara- cara yang terhormat, dengan langkah- langkah yang beradab. PDI Perjuangan telah memastikan sebagai satu- satunya partai politik yang paling konsisten mengusung pasangan nasionalis. PDI Perjuangan mengusung pasangan HT. Rizal Nurdin dan Rudolf Pardede Tahun 2003 lewat pemilihan di DPRDSU, kemudian mengusung Tri Tamtomo dan Benny Pasaribu di Pilkada Tahun 2008, lalu mengusung Effendi Simbolon dan Djumiran Abdi di Pilkada Tahun 2013, hingga mengusung Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus di Pilkada Tahun 2018," katanya dalam rilis pers yang diterima RMOL Sumut, Senin (9/4).

Sutrisno menjelaskan, sebagai pasangan nasionalis yang ingin mengabdi di Sumatera Utara, Djarot sejatinya mendapat banyak tawaran untuk menjadi bagian dari komunitas. Komunitas-komunitas tersebut, ingin memberi marga, gelar komunitas adat, gelar kesultanan, maupun gelar dalam berbagai kelompok masyarakat.

"Beliau berkenan menerima penyematan simbol- simbol komunitas, seperti ulos, topi , maupun bentuk lain. Akan tetapi, beliau tidak pernah mengubah maupun menambah identitas dirinya," jelasnya.


Komentar Pembaca
Rachmawati Soekarnoputri Rangkul Golkar Dan PPP
Youth Enterpreneur Summit 2019

Youth Enterpreneur Summit 2019

SENIN, 08 APRIL 2019 , 11:26:00



The ads will close in 10 Seconds