Ketua Komisi VII Gagas IPAL Jadi Biogas Di Madina

Ekonomi  KAMIS, 12 APRIL 2018 , 11:37:00 WIB

Ketua Komisi VII Gagas IPAL Jadi Biogas Di Madina
RMOL. Dalam reses ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina) baru-baru ini Ketua Komisi VII DPR-RI Gus Irawan Pasaribu yang membidangi energi dan lingkungan hidup meresmikan pengoperasioan IPAL (instalasi pengolahan air limbah).
Gus Irawan Pasaribu, ketua Komisi VII DPR-RI, mengungkapkan hal itu kepada wartawan di Medan, Selasa (10/4), menjelaskan tentang proyek senilai Rp2 miliar tersebut namun mampu mengubah tinja (kotoran) manusia menjadi biogas.

"Jadi di Pesantren Mustofawiyah Purba Baru Mandailing Natal dibangun kamar mandi. Kemudian kotoran manusia dari kamar mandi diolah menjadi biogas. Bisa menghasilkan api kemudian dialirkan ke dapur umum," ungkapnya.

Waktu peresmian, Gus Irawan mengaku mencobanya dan kompornya hidup. "Itu sebenarnya inovasi sederhana. Walaupun nilai yang dikeluarkan tidak terlalu besar tapi setidaknya bermanfaat buat masyarakat sekitar," kata dia.

Menurut Gus Irawan, selama ini kotoran manusia tidak pernah dimanfaatkan di daerah itu.

 "Padahal melalui sedikit alih teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih baik," tuturnya.

"Selama reses kali ini saya melakukan beberapa hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat banyak.

 Termasuk juga mendatangkan tiga Dirjen Kementerian ke wilayah Madina dan Tabagsel," jelasnya.

Gus Irawan mengatakan selama reses tersebut para Dirjen hadir ke daerah itu karena berhubungan dengan energi dan lingkungan hidup.

 "Kalau di Madina kita urusi soal biogas, saat berada di Tapsel saya menggagas tentang perlindungan hutan konservasi karena di situ ada spesis paling langka di dunia yaitu orang utan" sebutnya.

Saat di Tapsel yang hadir Dirjen BKSDA bahkan bergabung dengan tiga Bupati karena hutan konservasi yang ada di Batangtoru berada di tiga wilayah yaitu Tapsel, Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah.

 "Kita juga undang pakar dari perguruan tinggi setempat yaitu UMTS serta menghadirkan industri yang ada di kawasan hutan seperti penambang emas PT AR, pengelola proyek geothermal Sarulla karena sedang membangun listrik tenaga air sebesar 500 MW," ungkapnya.

Bahkan NGO asing pun dilibatkan untuk menjaga semua ekosistem yang berada di tiga daerah dimaksud. "Tentu sebagai wakil rakyat yang berasal dari sana dan kebetulan kampung saya juga di Batangtoru, Marancar, menjadi hal yang sangat menyenangkan bisa berbaur dengan masyarakatnya serta membawa terobosan di tengah mereka," pungkasnya.

Dalam pertemuan dengan seluruh unsur yang peduli dengan lingkungan tersebut, semua menyepakati bahwa ekosistem harus dijaga walaupun ada eksplorasi kekayaan alam.

"Eksplorasi kekayaan alam harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat di sana. Jadi upaya yang dilakukan harus paralel. Jangan karena satu terobosan lalu meniadakan yang lain. Misalnya jangan gara-gara eksplorasi kekayaan alam, lalu keselamatan ekosistem diabaikan," ujarnya.

"Prinsipnya sebagai anggota dewan yang membidangi lingkungan, kami sepakati hal-hal penting agar jangan sampai masyarakat dan lingkungan jadi korban. AR silakan beroperasi, kemudian North Sumatera Hydro Energy juga silakan bangun pembangkit listrik tapi kesinambungan ekosistem harus dijaga," sambung Gus Irawan.

Apalagi tentang pembangkit listrik Hydro Energy yang sekarang dibangun 500 MW termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia, ungkap Gus Irawan. "Jadi unsur masyarakat, pemerintah dan legislatif, serta organisasi kemasyarakat mendorong proses pembangunan tapi jangan mengabaikan lingkungan," kata wakil ketua Fraksi Gerindra DPR-RI itu. [hta]






 

Komentar Pembaca
Ijeck Mencoblos

Ijeck Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:21:00

Djarot Mencoblos

Djarot Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:29:00

Sihar Sitorus Mencoblos

Sihar Sitorus Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:43:00