Sutan Puasa Lubis, Pendiri Kuala Lumpur

Oleh Shohibul Anshor Siregar

OPINI  SENIN, 16 APRIL 2018 , 20:01:00 WIB

Sutan Puasa Lubis, Pendiri Kuala Lumpur

Foto/Net

RMOL. |Kontroversi tentang sejarah Kuala Lumpur sudah berlangsung lama | Abdur-Razaq Lubis melalui bukunya Sutan Puasa: Founder of Kuala Lumpur menyelesaikannya dengan data akurat | Pendiri Kuala Lumpur bukan Kapten Cina Ketiga Yap Ah Loy dan juga bukan Raja Abdullah keturunan bangsawan dari Bugis itu | Pendiri Kuala Lumpur adalah Sutan Puasa Lubis, seorang bangsawan dari Mandailing |

*******
Penggunaan kata "founder” dalam sejarah yang dituliskan oleh pihak Barat adalah sesuatu yang amat bermasalah. Tak dapat tidak, kata itu telah amat kerap digunakan untuk maksud tertentu pada zaman penjajahan. Christopher Columbus misalnya telah dinyatakan sebagai discover of America. Captain James Cook the founder of Australia, the founder of Singapore adalah Sir Thomas Stamford Raffles.

Di Indonesia ada jenis bunga yang unik dan sangat indah serta berukuran besar, dan oleh penjajah disebut pertamakalinya ditemukan oleh Rafless hingga dinamakan Raflesia. Semua klaim seperti itu benar-benar menggap rendah dan menyepelekan komunitas dan kebudayaan serta pengetahuan, apalagi sejarah, orang-orang lokal (jajahan) yang menjadi pemilik sebenarnya dari aset-aset itu. Betapa pun sangat pahit, itu adalah sebuah kenyataan yang dilatari kecongkakan tak berdasar.

Negeri-negeri bekas jajahan hingga kini masih belum selesai dengan dampak perlakuan penjajah itu. Sebagai suatu contoh Anthony Reid misalnya, pada tahun 2016 yang lalu, memberi pernyataan mengejutkan melalui makalahnya Is There A Batak History”, yang memberi gugatan terhadap segala yang ditulis oleh orang Barat bekas penjajah dan orang-orang yang kemudian mengikutinya di kemudian hari, tentang siapa sebetulnya orang Batak itu. Malangnya akses untuk sumber-sumber data pun tak begitu mudah, karena telah mereka bawa ke negerinya dengan tanpa izin pemilik sama sekali.

Selain itu masalah bahasa juga membuat usaha lebih mengenali diri sendiri menjadi lebih sulit bagi negara-negara bekas jajahan itu. Pemerintah negara-negara bekas jajahan seperti Indonesia pun seolah merasa belum memiliki urusan mengenai hal penting seperti itu. Bayangkanlah sebuah negara-bangsa dengan sebuah ketak-jelasan sejarah. Pahit itu.       

Komentar Pembaca
4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

SELASA, 23 OKTOBER 2018 , 14:29:00

Bercanda Bareng Warga

Bercanda Bareng Warga

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 08:56:00

Salat Ghaib

Salat Ghaib

JUM'AT, 02 NOVEMBER 2018 , 17:44:00



The ads will close in 10 Seconds