Rekontekstualisasi Peran HMI Sumut : Catatan Menjelang Musda

Oleh: Muhammad Alwi Hasbi Silalahi

OPINI  MINGGU, 10 JUNI 2018 , 13:58:00 WIB

Rekontekstualisasi Peran HMI Sumut : Catatan Menjelang Musda

M. Alwi Hasbi Silalahi

RMOLSumut. Sulit dibantah bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia memilik andil yang cukup signifikan bagi kehidupan sosial masyarakat. Peran ini tentunya sejalan dengan tujuan HMI di awal berdirinya, selain gerakan dakwah islamiyah, HMI juga lahir sebagai gerakan sosial kemasyarakatan dengan cita-cita menyatukan gerakan mahasiswa menjaga Indonesia dua tahun setelah kemerdekaan.
Namun demikian, dewasa kini gerak langkah HMI sudah mulai banyak dipertanyakan. Bukan hanya dikalangan alumni dan masyarakat umum lainnya, para kader HMI sendiri sudah mulai mempertayakan peran organisasi yang didirikan Lafran Pane itu saat ini. Sangat wajar memang, tercatat pasca dimulainya Orde Reformasi gerakan-gerakan organisasi mahasiswa secara umum sudah mulai kehilangan arah. Begitu juga dengan HMI yang seiring berjalannya waktu sibuk dengan berbagai persoalan yang menimpa tubuhnya sendiri.

Berangkat dari pemikiran tersebut, haruslah diciptakan sebuah formulasi untuk mengembalikan Himpunan Mahasiswa Islam menjadi salah satu kekuatan progresif dan revolusioner seperti yang pernah disebutkan oleh Presiden Soekarno. Formulasi-formulasi itu kemudian dijalankan oleh kader-kader secara bersama-sama dengan tujuan kembali menjadikan HMI sebagai apa yang pernah disampaikan Jendral Sudirman yaitu harapan masyarakat Indonesia.

Begitupun untuk Sumatera Utara, pengembalian peran HMI sebagai anak kandung rakyat harus digaungkan dengan lantang. Terlebih menjelang kontestasi Musyawarah Daerah Badko HMI Sumut, dibutuhkan sosok baru yang siap benar-benar menjadi ujung tombak gerakan untuk dijadikan pimpinan di periode yang akan datang.

Merawat Independensi HMI

Salah satu identitas yang wajib melekat di tubuh kader HMI adalah pribadi yang merdeka, tidak terikat dengan kepentingan partai ataupun politik praktis lainnya. Sebagai kader HMI yang mengikuti jenjang perkaderan mulai dari Basic Training, independensi merupakan nyawa bagi yang apabila terlepas maka lunturlah statusnya sebagai seorang anggota HMI.

Jika ditelisik lebih jauh, salah satu aspek yang menjadikan kemunduran HMI adalah banyaknya kader yang melupakan independensi untuk meraih berbagai keuntungan pribadi. Berbagai fakta dilapangan menunjukkan banyak anggota HMI dengan bangga menjadi anggota salah satu partai atau sayap partai, dan ada juga yang menjadi tim pemenangan calon kepala daerah atau anggota legislatif. Tentu hal ini adalah sebuah kesalahan yang nyata, bahkan jika menuruti peraturan konstitusi anggota HMI yang terlibat dalam politik praktis harusnya sudah dipecat dan dicabut haknya sebagai anggota HMI.

Sumatera Utara juga sedang disibukkan dengan berbagai aktivitas politik, mulai pemilihan Gubernur dan wakil gubernur, maupun kepala daerah lainnya baik ditingkat kota maupun kabupaten. Sebagai sebuah kekuatan besar, aktivis-aktivis HMI tentunya dilirik untuk menjadi bahagian tim pemenangan pasangan calon. Hal ini ditambah dengan bertebarnya alumni-alumni HMI di tim-tim pemenangan. Namun begitu, sebagai kader HMI idealnya menolak berbagai ajakan itu, dan tetap menjalankan fungsi sebagai agen of social control.

Begitupun dengan bakal calon Ketua Umum Badko HMI Sumut yang akan bertarung di kontestasi Musda yang akan datang, wajiblah kiranya mereka yang ikut bertarung adalah orang-orang yang terlepas dari berbagai ikatan-ikatan atau bahkan deal politik peraktis. Secara sadar tentu kita meyakini jika calon memiliki ikatan-ikatan politik praktis akan membawa kepentingan lainnya ketika menjabat di HMI.

Visi, Misi dan Program Kerja

Dalam upaya mengembalikan HMI sebagai sebuah kekuatan yang progresif dan revolusioner, peranan visi misi dan program kerja yang akan dilakukan pimpinan struktural HMI haruslah kuat dan terarah.  Perlu disadari bahwa pembentukan visi misi dan program kerja yang relevan terhadap esensi HMI sebagai pejuang ummat dan bangsa adalah penting, terlebih jika menginginkan lahirnya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah SWT sesuai pasal 4 Anggaran Dasar HMI.

Proses pembentukan visi, misi serta program kerja itu juga harus memahami berbagai aspek yang ada, mulai ada perkembangan zaman hingga permasalahan-permasalah yang acapkali terjadi. Konsep HMI Milineal yang digaungkan kakanda Ridal sebagai kandidat Ketua Umum PB HMI pada kongres di Ambon yang lalu sebenarnya cukup relevan dengan kondisi zaman saat ini. Kesadaran terhadap perkembangan Tekhnologi Informasi harus diformulasikan menjadi sebuah kekuatan bagi struktural HMI, terlebih jika ingin menciptakan kepengurusan yang transparan dan komunikatif. Dengan adanya berbagai media, dengan mudah segala aspek informasi dapat disebarkan baik agenda-agenda maupun hal lainnya yang ada di HMI.

Selain itu berbagai kekisruhan antara sesama kader yang sering menjadi masalah besar di HMI harus ditanggapi dengan serius pula, program-program yang sifatnya untuk menjalin silaturahmi dan persatuan kesatuan kader harus sering digalakkan. Tentu hal ini bertujuan menciptakan keharmonisan sehingga ungkapan HMI Berteman Lebih dari Saudara” yang kerap diucapkan dapat terealisasi. Hal ini dapat berjalan lebih baik jika sesame kader sering saling mengingatkan untuk amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga HMI sebagai organisasi mahasiswa dapat  berkesinambungan menciptakan Islam yang rahmatan lil alamin.

Selanjutnya peran HMI terhadap masyarakat juga harus kembali dikoreksi, jika dilihat lebih seksama HMI saat ini lebih banyak berkutat terhadap aktivitas pengembangan kader dan melupakan peranannya kepada masyarakat. Persoalan-persoalan besar seperti kemiskinan, korupsi dan narkoba harus juga diperhatikan. Dalam menjawab persoalan ini, tentulah HMI harus memberikan kritikan dan masukan jika intansi-instansi yang berkaitan dengan persoalan tersebut. Lebih baik tentunya jika HMI terjun langsung dalam mencegah terjadi berbagai tindakan-tindakan pelanggaran hukum seperti korupsi dan narkoba, dan mengumpulkan bantuan baik dari kader maupun alumni untuk mengurai angka kelaparan dan kemiskinan masyarakat.

Terakhir dan yang paling utama tentulah aktivitas perkaderan harus berjalan secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Perkaderan masih menjadi alat vital dalam upaya mempertahankan eksistensi HMI dan mempertajam kemampuan kader. Baik itu Formal, Informal, maupun non formal harus sama-sama diperhatikan sehingga HMI sebagai organisasi kader dapat menciptakan orang-orang yang berdaya saing tinggi.

Rumusan-rumusan ini haruslah tertuang di visi, misi dan program kerja kandidat ketua umum Badko HMI Sumut pada musda yang akan datang, mudah-mudahan jika 4 aspek yang penulis jabarkan diatas dapat terealisasi maka akan terekontekstualisasinya peran HMI sebagai anak kandung Rakyat. Bahagia HMI, Yakin Usaha Sampai. [***]

Penulis adalah kandidat Ketua Umum Badko HMI Sumut
 

Komentar Pembaca

"Jokowi" Terpelanting, #2019GantiPresiden

SENIN, 20 AGUSTUS 2018 , 19:00:00

Jokowi Terpelanting, #2019GantiPresiden

Jokowi Terpelanting, #2019GantiPresiden

SENIN, 20 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Sri Mulyani Menyesatkan!

Sri Mulyani Menyesatkan!

SENIN, 20 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Ijeck Mencoblos

Ijeck Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:21:00

Djarot Mencoblos

Djarot Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:29:00

Sihar Sitorus Mencoblos

Sihar Sitorus Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:43:00