Sosiologi Terorisme (18)

Bahaya Politisasi Dalil Agama

Harian Rakyat Merdeka

Politik  SENIN, 11 JUNI 2018 , 10:24:00 WIB

Bahaya Politisasi Dalil Agama

Nasaruddin Umar/Net

TERORISME tidak berdi­ri sendiri. Biasanya sikap radikal atau teroris lebih merupakan reaksi daripada sebuah aksi yang berdiri sendiri. Intensitas dan es­kalasi radikalisme dan ter­orisme itu juga biasanya dipicu oleh faktor lain. Bisa dalam bentuk persoalan lokal dan bisa global. Salah satu hal yang kontroversi sering me­mancing bangkitnya garis keras ialah politisa­si dalil-dalil agama. Politisasi dalil bisa diguna­kan oleh berbagai pihak. Bahkan bisa terjadi perang dalil bagi kelompok yang berseteru.

Sebagai contoh, suatu ketika terjadi pe­mandangan menarik di sebuah pasar tradis­ional di Timur Tengah. Seorang penjual madu dagangannya laris manis karena dipoles den­gan hadis, ditambah dengan ayat yang di­kutip dari surah al-Nahl (lebah madu). Hadis tentang madu memang pernah ada, yaitu: al- 'Asal da'u kulli dawa' (madu mengobati berba­gai macam penyakit). Penjual madu meneri­akkan hadis Nabi di tengah pasar sehingga dalam waktu tidak lama dagangannya habis.

Di samping penjual madu ada seorang pen­jual terong hanya bisa termangu menyaksikan pembeli menyerbu dagangan madu di samp­ingnya, sementara dagangan terongnya tidak ada yang mampir membeli. Rupanya si pen­jual terong tidak kehabisan akal. Ia pun meng­arang sebuah hadis yang isinya mirip dengan hadis yang diteriakkan oleh penjual madu. Ia membuat hadis palsu dan meneriakkan­nya berulang-ulang: Wahai para pengunjung pasar, kemarilah membeli terongku, Rasu­lullah pernah bersabda: Al-Bazinjan da'u kulli dawa' (terong bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit). Alhasil, dagangan penjual terong juga laris manis. Hadis palsu tersebut sering dijadikan contoh dari hadis palsu di da­lam kitab-kitab ulumul hadis.

Dalam kesempatan lain ketika Ibu Mega­wati Soekarno Putri mencalonkan diri sebagai Presiden masa lalu, sebuah spanduk raksasa yang berisi hadis Nabi terpampang di sebuah kampus besar: Lan yufliha qaumun wallau amrahum imraatan (Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya di­urus oleh seorang perempuan). Di tempat lain dipajang spanduk isinya ayat Al-Qur'an: Al-Ri­jal qawwamun 'ala al-nisa' (Laki-laki pemimpin bagi perempuan/Q.S. al-Nisa'/4:32). Jelas spanduk-spanduk dan brosur itu bertujuan mencekal Ibu Megawati sebagai calon Presi­den. Perolehan suara Ibu Megawati tergolong kurang di kawasan itu, namun tidak berhasil mencekalnya sebai Presiden.

Secara terselubung hingga saat ini dalil-dalil agama masih sering dipolitisasi untuk "menembak" seseorang atau sekelompok orang. Bukan hanya dalam dunia politik tetapi juga dalam dunia bisnis. Ada produk-produk dipoles dengan ayat atau hadis tetapi pada merek lain dijadikan sasaran kampanye hitam untuk menjatuhkan produk itu.


Komentar Pembaca
Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

Memperingati 7 Tahun Kematian Kim Jong Il

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

SELASA, 23 OKTOBER 2018 , 14:29:00

Bercanda Bareng Warga

Bercanda Bareng Warga

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 08:56:00

Salat Ghaib

Salat Ghaib

JUM'AT, 02 NOVEMBER 2018 , 17:44:00



The ads will close in 10 Seconds