Koalisi Gemuk Tak Garansi Menangkan Pilgubsu 2018

Pilkada Sumut 2018  RABU, 13 JUNI 2018 , 13:05:00 WIB | LAPORAN: ROBEDO GUSTI

Koalisi Gemuk Tak Garansi Menangkan Pilgubsu 2018

Foto/RMOLSumut

RMOLSumut. Koalisi gemuk partai pengusung bagi pasangan calon untuk maju pada perhelatan Pilgubsu 2018 tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk meraih kemenangan. Hal ini disampaikan oleh pengamat politik Sumatera Utara, Bakhrul Khair Amal menanggapi hasil survei pasangan calon peserta Pilgubsu 2018 yang dirilis oleh Indo Barometer baru-baru ini.
Hasil survei yang disampaikan oleh Indo Barometer menunjukkan pasangan nomor 1 Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) kalah popularitas dan elektabilitas dibanding pasangan nomor 2 Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss).

Pasangan Eramas hanya dipilih oleh 36,9 persen pemilih. Sedangkan pasangan Djoss dipilih oleh 37,8 persen.

"Harus dilihat bahwa koalisi partai pendukung itu hanya merupakan syarat pencalonan untuk dapat lolos mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun untuk menentukan pasangan tersebut diterima atau tidak oleh masyarakat, itu tidak bisa menjadi ukuran," kata Bakhrul, Rabu (13/6).

Bakhrul tidak membantah bahwa secara hitung-hitungan koalisi gemuk idealnya akan membuat pasangan calon didukung memiliki elektabilitas lebih tinggi. Sebab, seluruh kader partai politik pendukung selalu diminta oleh pimpinan partai masing-masing untuk bekerja mengenalkan pasangan tersebut kepada
masyarakat.

Akan tetapi di tengah agenda politik seperti Pilgubsu maupun pemilu legislatif, masyarakat selaku pemilih tetap akan menentukan pilihannya berdasarkan hal yang rasional.

"Artinya faktor kedekatan pasangan calon secara pribadi dengan masyarakat itu tetap menjadi hal yang paling mempengaruhi pilihan masyarakat," ujarnya.

Lantas posisi partai politik dalam upaya pemenangan dimana? Dalam hal inilah menurut Bakhrul selalu dihadapkan pada dua kondisi berbeda. Di satu sisi seluruh pengurus partai memang selalu menyerukan agar seluruh kader berperan aktif namun di sisi lain belum tentu seluruh kader melaksanakan hal tersebut.

"Ada namanya teori Drama Turki, panggung depan dan panggung belakang selalu berbeda. Memang di depan seperti itu, namun di belakang apakah konstituen seluruhnya akan melaksanakan itu dan benar-benar memilih sesuai aturan yang dibangun partai politik? Sama sekali tidak ada jaminan" pungkasnya.

Seperti diberitakan, Indo Barometer merilis hasil survei mereka tentang elektabilitas dua pasangan calon di Pilgubsu 2018. Hasilnya, Djoss dipilih 37,8 persen mengalahkan Eramas dengan angka tipis 36.9 persen.

Selain secara berpasangan, secara individual Djarot juga lebih dikenal oleh masyarakat sebagai calon gubernur dengan persentase pemilih 94,4 persen mengalahkan Edy Rahmayadi 87,9 persen. Hal yang sama juga terjadi pada calon wakil gubernur dimana Sihar Sitorus tingkat pengenalannya di tengah pemilih mencapai 74,6 persen mengalahkan Musa Rajekshah 70,5 persen.[rgu]


Komentar Pembaca