Guru Besar FISIP UNPAD: Program Djoss Lebih Nyata Dibanding Eramas

Pilkada Sumut 2018  KAMIS, 21 JUNI 2018 , 19:03:00 WIB | LAPORAN: ROBEDO GUSTI

Guru Besar FISIP UNPAD: Program Djoss Lebih Nyata Dibanding Eramas

Foto/Net

RMOLSumut. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poitik Universitas Padjajaran, Prof Dr. H. Obsatar Sinaga mengatakan debat kandidat Pilgubsu 2018 putaran ketiga yang berlangsung pada Selasa (19/6) lalu semakin memperlihatkan bahwa program yang disampaikan oleh pasangan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) lebih nyata dibanding dengan program yang dipaparkan oleh pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas).
Menurutnya, program pengadaan kartu sehat dan kartu pintar yang selalu disampaikan oleh Djoss merupakan hal yang nyata yang langsung menyentuh
kebutuhan masyarakat Sumatera Utara saat ini.

"Program ini berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat Sumatera Utara saat ini karena menyangkut penanganan kesehatan dan juga pendidikan.
Teknis penggunaannya juga sudah jelas," katanya, Kamis (21/6).

Guru besar kelahiran Deli Serdang ini mengatakan program tersebut berbeda dengan apa yang dipaparkan oleh pasangan Eramas. Ia menilai program yang
dipaparkan oleh pasangan ini masih terlalu umum, sehingga implementasinya ditengah masyarakat belum jelas.

"Kita tidak melihat apa yang mau mereka perbuat secara spesifik kepada masyarakat. Mereka hanya memaparkan hal yang umum yang menurut saya masih hanya pada tataran kebijakan saja. Belum pada aksi langsung yang berhubungan dengan masyarakat," ujarnya.

Dari debat tersebut menurut Obsatar, masyarakat Sumatera Utara seharusnya sudah lebih mudah untuk menentukan program siapa yang mereka butuhkan saat
ini. Namun hal itu menurutnya tidak mudah sebab saat ini masyarakat sudah terkontaminasi dengan upaya pengkotak-kotakan yang tidak didasarkan pada program para calon pemimpin.

"Ya kita sekarang tinggal melihat kecerdasan masyarakat Sumatera Utara dalam menentukan apa yang mereka butuhkan. Kalau berfikir jernih maka sudah bisa
dilihat program mana yang memberikan pengaruh langsung kepada kehidupan mereka. Masalahnya saat ini pemilih di Sumatera Utara sudah terkontaminasi
dengan pengkotak-kotakan yang dilandaskan pada unsur SARA," sebutnya.

Dalam debat tersebut mengenai penanganan korupsi juga kembali mengemuka. Khusus dalam hal ini menurut Obsatar, pasangan Djoss sudah jauh unggul dibanding Eramas. Pengalaman Djarot saat menjadi Bupati Blitar maupun saat menjabat Gubernur DKI Jakarta akan menjadi modal besar baginya untuk
pencegahan korupsi ditingkat birokrat. Keuntungan besar juga ada pada pasangan Djoss mengingat Djarot maupun Sihar tidak pernah tersangkut kasus-kasus dugaan korupsi, berbeda dengan pasangan Eramas dimana Musa Rajekshah sempat dipanggil KPK untuk dimintai keterangan terkait kasus dugaan suap anggota DPRD Sumatera Utara dari gubernur saat itu Gatot Pujo Nugroho.

"Saya kira Djarot punya pengalaman soal pencegahan korupsi dengan berbagai program e-budgeting, e-planning dan sebagainya yang sangat mengedepankan

transparansi saat memimpin. Berbeda denga pak Edy yang latar belakangnya adalah prajurit militer, memang punya ketegasan. Tapi itu tidak cukup untuk
mencegah korupsi," pungkasnya.[rgu]

Komentar Pembaca
SBY Prabowo Tidak Bicara Politik Di RSPAD

SBY Prabowo Tidak Bicara Politik Di RSPAD

RABU, 18 JULI 2018 , 19:00:00

Anies Pastikan Tak Maju Pilpres

Anies Pastikan Tak Maju Pilpres

RABU, 18 JULI 2018 , 15:00:00

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

RABU, 18 JULI 2018 , 13:00:00

Ijeck Mencoblos

Ijeck Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:21:00

Djarot Mencoblos

Djarot Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:29:00

Sihar Sitorus Mencoblos

Sihar Sitorus Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:43:00