Pemenang Pilkada Diminta Jamin Kepastian Investasi

Investor Cemaskan Perda Baru

Ekonomi  KAMIS, 28 JUNI 2018 , 11:23:00 WIB

Pemenang Pilkada Diminta Jamin Kepastian Investasi
RMOLSumut. Kebijakan daerah berpotensi mengalami perubahan pasca Pilkada secara serentak. Para kepala daerah baru diharapkan tidak membuat peraturan yang menyulitkan investasi.
Bhima Yudhistira Adhinegara menyerukan kepada para pemenang pemi­lihan kepala daerah (Pilkada) tidak membuat regulasi yang memicu ketidakpastian hukum, terutama terkait perizinan dan in­vestasi. Menurutnya, para investor sejatinya lebih mencemaskan masalah kepastian hukum ketim­bang proses penyelenggaraan Pilkada itu sendiri.

"Suhu politik memang mem­buat investor khawatir. Tetapi mereka lebih takut ketidakpastian kebijakan. Bisa dibayang­kan ada 171 pilkada secara serentak. Berapa banyak Perda baru akan muncul? Masalah itu jauh lebih berbahaya karena bisa menghambat investasi," ujar Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Bhima menuturkan, tantangan ketidakpastian hukum merupakan hal penting yang harus menjadi perhatian serius pemerintah pusat pasca Pilkada. Apalagi, saat ini masih banyak peraturan yang belum sinkron antara pusat dan daerah.

Bhima berharap, pemerintah memberikan saksi tegas kepada daerah yang mempersulit investor. Hal ini bisa dilakukan melalui instrumen anggaran. Misalnya, menghentikan sementara pemberian anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam beberapa waktu.

Saat ditanya mengenai suhu politik tingkat nasional, Bhima memandang masih terkendali, tidak sampai berdampak signifi­kan terhadap investasi.

Bhima menerangkan, gencarnya kritik yang disampaikan kelompok oposisi mengenai kinerja perekonomian tidak akan ditelan mentah-mentah para investor. "Misalnya kritik soal utang. Para investor kan memiliki tim dan ahli yang bisa menggali data,"  terangnya.

Bhima menyarankan pemerintah untuk tidak panik dengan kritik yang makin kencang. Cukup dijawab saja dengan data-data dimiliki pemerintah. Menurutnya, banyaknya kritik justru bagus sebagai sarana check and balances.

Soal utang, Bhima menambahkan, pihaknya tidak mau memperdebatkan besaran nominalnya yang kini terus membesar, tetapi pada produktivitasnya. "Untuk mengukurnya bisa pakai DSR (debt to service ratio). Sekarang kita di atas 25 persen lewat ambang batas aman DSR menurut IMF. Ya saran saya pemerintah harus hati-hati. Apalagi defisit perdagangan sudah terjadi 4 kali dalam 5 bulan terakhir," jelasnya.

Tak Ganggu Ekonomi

Pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono optimistis perhelatan politik di Tanah Air tidak akan mengganggu kinerja perekonomian. "Saya optimistis tahun politik tidak membawa bencana bagi ekonomi Indonesia. Kalaupun ada masalah muncul, saya yakin bukan dari sisi politik," kata Tony.

Tony mencontohkan, kondisi pasar finansial sempat bergejolak menjelang pemilihan umum 2009. Hal itu terjadi bukan karena suhu politik di dalam negeri tetapi karena dampak dari krisis subprime mortgage (masalah kredit perumahan) yang terjadi di Amerika Serikat. Walau begitu, ekonomi Indonesia dalam keadaan stabil karena terbantu oleh membaiknya harga komoditas.

Contoh lain kondisi perekonomian menjelang pemilihan umum 2014. Menurut Tony, persoalan ekonomi dampak dari kebijakan pemerintah harus melakukan konsolidasi fiskal terkait penyesuaian subsidi energi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. [rmol]



Komentar Pembaca
SBY Prabowo Tidak Bicara Politik Di RSPAD

SBY Prabowo Tidak Bicara Politik Di RSPAD

RABU, 18 JULI 2018 , 19:00:00

Anies Pastikan Tak Maju Pilpres

Anies Pastikan Tak Maju Pilpres

RABU, 18 JULI 2018 , 15:00:00

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

Menteri Enggar Urus Telur Saja Tidak Becus!

RABU, 18 JULI 2018 , 13:00:00

Ijeck Mencoblos

Ijeck Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:21:00

Djarot Mencoblos

Djarot Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:29:00

Sihar Sitorus Mencoblos

Sihar Sitorus Mencoblos

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:43:00