>

Rumah Sakit Buat Ratna Sarumpaet

OPINI  JUM'AT, 05 OKTOBER 2018 , 10:15:00 WIB

Rumah Sakit Buat Ratna Sarumpaet

Foto/Net

Energi yang tersumbat kala ia dihadang aparat dalam mementaskan Marsinah Menggugat, seperti tumpah ruah. Seluruh kata-katanya seperti mantra yang membuat orang-orang terus menyimaknya. Kalimat-kalimat yang ia ucap bagai maghnet yang mampu menarik hati pelbagai kalangan. Tak ada yang ketakutan mendengar kalimat-kalimat itu, sebagaimana pemirsa sinetron Mak Lampir. Daya pikatnya melebihi Sito Gendeng, guru Wiro Sableng yang berilmu tinggi itu. Ia bak seorang srikandi yang sedang bersiap untuk menerima karmanya, dihukum oleh bangsa yang dibelanya sepenuh hati.

Yang jelas, sekalipun melakukan operasi plastik, Ratna bukanlah sosok selebritas perempuan di dunia ketiga yang berpenampilan glamour. Ia juga bukan Marie Antoinette, istri Louis XVI yang doyan makan. Andai saja Marie tak menyuruh pasukan berkuda yang mengiringi pelariannya di tengah revolusi Perancis yang bergelora untuk masak dan makan enak, barangkali sejarah akan berkata lain. Ratna ditangkap di bandara bukan dalam posisi perempuan-perempuan korup yang sibuk dengan segala macam harta kekayaannya, ketika melarikan diri ke luar negeri kala keadaan berubah. Ratna sedang bersiap untuk menghadiri sebuah konferensi yang kerap diikutinya di luar negeri.

Saya sungguh tak mengerti, kesalahan besar apa yang dilakukan oleh Ratna. Ia sudah mengakui semua kesalahannya. Sikapnya berbeda dengan Socrates yang mengucapkan pledoi” Apologia, sebelum minum racun di era Yunani. Socrates bisa saja diubah putusannya, apabila mau mengucapkan permintaan maaf. Murid-murid setianya seperti Plato sudah mengumpulkan biaya untuk membayar denda, guna mengganti hukuman yang ditimpakan kepadanya. Socrates menolak. Ia meminum racun itu, sembari menyampaikan kritikan pedas terhadap praksis demokrasi di era Yunani itu. Demokrasi yang dikendalikan kalangan tuan-tuan tanah, kaum feodal, bangsawan, agamawan, hingga jenderal yang tak lagi berada di medan perang.

Ratna tidak sampai pada tingkat itu. Ia menyesal sebagai produsen dari sesuatu yang ia tolak: hoaks. Ia tak menyangka, dirinyalah yang menjadi sumber utama dari hoaks yang membuat banyak pihak yang terdiri dari orang-orang yang setia kepadanya merasa dibohongi. Ratna sama sekali belum membingkai keseluruhan tali-temali yang melilitnya. Ia masih kebingungan. Ia menangis tak berdaya.

Saya tentu tak ingin menangis seperti Ratna. Ia pasti melarang saya. Ia keras. Dulu, hampir setiap pekan ia menelepon saya. Pun, saya ikut berlatih dan bermain teater bersamanya. Tatkala kami mengkritisi penanganan banjir dalam era Gubernur Sutiyoso, sebanyak 13 orang host acara Jakarta News FM dipecat oleh pengelola. Saya termasuk yang dipecat, bersama Adnan Belfast, Ahmad Taufik (almarhum), Hardy Hermawan, dan Ratna Sarumpaet. Sebab, saban Rabu malam saya melangsungkan acara-acara yang bernada kritis di kantor radio yang beralamat di Pondok Indah itu. Ratna tak kapok. Ia terus melawan, termasuk saat lapangan Monas dipagar dan dihuni oleh seekor gorilla yang dibeli seharga Rp. 3 Milyar.


Komentar Pembaca
Wartawan Diselamatkan TNI

Wartawan Diselamatkan TNI

JUM'AT, 24 MEI 2019 , 12:00:00

Prabowo Tenangkan Pendukung: Kekerasan Jangan Dibalas Kekerasan
Sampai Hari Raya

Sampai Hari Raya

KAMIS, 23 MEI 2019 , 10:00:00

Rachmawati Soekarnoputri Rangkul Golkar Dan PPP
Youth Enterpreneur Summit 2019

Youth Enterpreneur Summit 2019

SENIN, 08 APRIL 2019 , 11:26:00

PWI Sumut Apresiasi Asian Agri

PWI Sumut Apresiasi Asian Agri

KAMIS, 09 MEI 2019 , 18:24:00



The ads will close in 10 Seconds