Rumah Sakit Buat Ratna Sarumpaet

OPINI  JUM'AT, 05 OKTOBER 2018 , 10:15:00 WIB

Rumah Sakit Buat Ratna Sarumpaet

Foto/Net

"Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayalan yang entah diberikan setan mana kepada saya seperti itu" (Ratna Sarumpaet, 3 Oktober 2018).

Sampai pagi ini, saya masih belum mengerti keseluruhan teks menyangkut Ratna Sarumpaet. Belum selesai keterkejutan saya atas apa yang ia sampaikan dalam konferensi pers, saya kembali tersentak dengan penangkapan dini yang dilakukan terhadap sosok yang berani mementaskan Marsinah Menggugat ini dalam monolog-monolognya. Ketika negara Orde Baru begitu kuat, Ratna mempertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya dari satu panggung ke panggung lain. Tak ada yang ia takuti, ketika begitu banyak orang yang merunduk dan tunduk kepada kekuasaan. Ia berkali-kali dicekal, namun berkali-kali juga melawan.

Saya tidak tahu, kenapa bangsa ini tiba-tiba sibuk dengan sosok yang dilahirkan di Tarutung, Tapanuli Utara, pada tanggal 16 Juli 1948 itu. Ia seusia dengan emak saya yang kini hidup di kampung halaman. Pengakuannya di kalangan terbatas dinilai telah menjadi sumbu api yang bisa membakar kehidupan demokrasi di negara ini. Ia semula dibela akibat pengakuan itu, tetapi dalam waktu singkat dinista sebagai biang keladi kebohongan publik. Padahal, tak ada satupun teks yang menunjukkan bahwa Ratna telah dengan sengaja menyebarkan ‘cerita khayalan’ yang berkecamuk di kepalanya. Yang menyampaikan kepada publik adalah pihak lain atas nama empati, sekaligus kegeraman.

Teks yang bersumber dari mulutnya yang terlihat sinis itu justru berupa pengakuan bersalah dan permintaan maaf. Itupun masih dalam nada tidak percaya atas apa yang ia telah perbuat. Sikap skeptisnya begitu kuat, termasuk kepada diri sendiri. Ia bahkan menyebut dengan jelas pihak yang sudah mempengaruhinya, yakni setan. Hanya saja, ia tidak tahu, setan mana dari barisan setan itu yang telah mempengaruhi kepala dan bibirnya itu. Walau, sejak awal ia menyadari bahwa apa yang ia katakan sama sekali keliru. Walau sudah berusia 70 tahun, Ratna masih mampu menciptakan kalimat-kalimat tajam yang sulit dicarikan tandingannya dalam generasi seusianya.

Betul, kasus yang menimpa Ratna memasuki seluruh kehidupan pribadi warga negara. Pembicaraan atas Ratna tidak terbatas hanya di kalangan kaum intelektual, komunitas politik, masyarakat sipil, atau entitas bisnis, tetapi merambah banyak sekali kanal. Jarang sekali satu peristiwa mampu muncul sebagai trending topics di media sosial selama dua sampai tiga hari. Ratna yang menguasai teknis pernafasan dalam teater ini, ternyata mampu memberikan nafas yang juga panjang terhadap dirinya sendiri. Rekaman pengakuannya, diputar berkali-kali. Bukan saja bahasa yang ia kemas begitu tajam, bernas dan bercahaya, tetapi juga gestur selama menyampaikan itu.


Komentar Pembaca
Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

SELASA, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

Papan Bunga 'Pembunuhan Janda'

SELASA, 23 OKTOBER 2018 , 14:29:00

Bercanda Bareng Warga

Bercanda Bareng Warga

SENIN, 22 OKTOBER 2018 , 08:56:00

Salat Ghaib

Salat Ghaib

JUM'AT, 02 NOVEMBER 2018 , 17:44:00



The ads will close in 10 Seconds