>

Walhi: Polusi Mercuri Alasan Kegiatan Tambang Emas Harus Diawasi

Rumah Kaca  KAMIS, 18 OKTOBER 2018 , 18:58:00 WIB | LAPORAN: ROBEDO GUSTI

Walhi: Polusi Mercuri Alasan Kegiatan Tambang Emas Harus Diawasi

Ilustrasi/Net

RMOLSumut. Manajer Hukum dan Litigasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Ronald Siahaan mengatakan polusi mercuri menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan pertambangan harus terus diawasi. Karena hampir dipastikan penggunaan mercuri dan sianida selalu terjadi pada setiap aktifitas pertambangan emas. Demikian disampaikannya menanggapi gugatan yang dilakukan oleh Walhi terhadap SK Badan Koordinasi Penanaman Modal yang diterbitkan atas nama Menteri ESDM terkait dengan Pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi kepada PT. Emas Mineral Murni (EMM) seluas 10.000 Hektare dengan komoditas Emas di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya Provinsi Aceh, dimana gugatan ini didaftarkan PTUN Jakarta.

"Walhi dalam hal ini tentu tidak konyol menggugatnya tanpa didasari kajian yang benar dan juga dari catatan data mengenai potensi bencana pada daerah-daerah tersebut," katanya, Kamis (18/10).

Ronald mengatakan limbah mercuri maupun sianida dari perusahaan pertambangan merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Sebab dari kajian mereka, beberapa perusahaan tambang yang sudah beroperasi di Indonesia selalu menunjukkan kecenderungan membuang limbah mercuri maupun sianida ke badan sungai. Pada batasan tertentu menurutnya hal ini dapat ditoleransi mengingat sungai memiliki kemampuan untuk merecovery atau memperbaiki diri sendiri. Namun yang tidak kalah penting dari itu adalah penguapan dari mercuri itu sendiri sehingga menjadi kandungan pada udara yang ada.

"Di Palu kandungan mercuri pada kawasan yang banyak pertambangan emasnya sudah diteliti. Kami menurunkan 3 orang ahli dari Jepang dan hasilnya kandungan mercuri pada udara mencapai 0,1000 nanogram per meter kubik. Hal ini jauh diatas standart yang ditetapkan WHO yakni hanya 0,01 nanogram per meter kubik," ujarnya.

Selama ini di Sumatera Utara menurutnya, yang selalu menjadi objek penelitian soal limbah mercuri maupun sianida hanya pada badan sungai seperti yang selalu dilakukan di Sungai Batang Toru. Pemerintah dan pihak perusahaan-perusahaan pertambangan emas disana selalu mengklaim bahwa hasil kajiannya masih dalam ambang batas normal. Namun hal ini tidak pernah dilakukan pada kandungan udara disana.


Komentar Pembaca
Rachmawati Soekarnoputri Rangkul Golkar Dan PPP
Youth Enterpreneur Summit 2019

Youth Enterpreneur Summit 2019

SENIN, 08 APRIL 2019 , 11:26:00



The ads will close in 10 Seconds