Keluarga, Pewaris Rahim Ilmu

Oleh Panji Pratama, S.S., M.Pd.

KBKC  JUM'AT, 26 OKTOBER 2018 , 10:00:00 WIB

Keluarga, Pewaris Rahim Ilmu
SUATU kali, saya mencoba mengingat-ingat perasaan saya pada hari pertama saya berdiri di depan kelas untuk mengajar. Sebagaimana anak didik saya yang juga baru masuk di kelas baru dan masih menyesuaikan diri, mungkin seperti itulah saya. Apa yang saya pikirkan saat itu adalah memastikan hari pertama masuk sekolah berjalan lancar; tanpa masalah, tidak ada interupsi, dan tiada penolakan dari para siswa. Maka, seluruh energi saya terpusat pada untaian kalimat yang dibuat sedemikian sempurna. Sehingga, hari pertama saya mengajar, diisi dengan kegiatan yang meminta murid-murid agar duduk manis dan mendengarkan pidato saya dengan baik.

Inilah, hal yang baru saya sadari sekarang. Pada saat itu, saya pikir saya terlalu fokus pada diri saya sendiri, bukan pada para konsumen kita, yaitu murid itu sendiri. Guru adalah seorang salesman dan murid adalah konsumen kita. Seorang salesman yang sukses tidak semata-mata diukur berdasarkan dari banyaknya produk yang dihafalnya. Sebaliknya, pekerjaannya tersebut justru sebuah hal yang menyangkut penciptaan hubungan. Pada akhirnya ‘minat’ sang salesmanterhadap berbagai jenis orang, terbukti menjadi anak tangga utama dalam meraih kesuksesan. Karena memang para konsumen pun menjadi ber-‘minat’ untuk mengenal produk yang ditawarkan sang salesman.

Gambaran ini mirip apa yang disampaikan Alferd Alder melalui teori psikologi individu tentang prinsip tujuan semu. Terkadang apa yang kita lakukan di masa lalu itu penting, tetapi jauh lebih penting adalah harapan kita sebagai individu yang ingin menggerakkan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia seutuhnya baik mengenai diri kita sendiri maupun individu lain di sekitar kita. Sebagai guru, saya pikir tujuan ini yang sangat diidam-idamkan. Dan hal itu, diamanatkan pula melalui cerita-cerita yang terhimpun di dalam buku ini.

Dalam cerpen pembuka berjudul Tanah Peninggalan”, gagasan utama yang ingin disampaikan sang penulis adalah pentingnya pengetahuan dalam mengelola keluarga. Kisah sebuah keluarga beradat Jawa yang beranak-pinak dan menetap di Binjai, Sumatera Utara. Dengan mengambil sudut pandang tokoh dari generasi ketiga, sang tokoh utama yang kuliah satu-satunya dalam cerita ini berupaya memotret sekelumit kisah kompleks keluarga besarnya.

Dimulai dari sang kakek yang keturunan Solo, kemudian bermigrasi ke Sumatera setelah menjadi tenaga kuli tani pada masa penjajahan. Sang kakek telah berhasil menjadi juragan tani di kampung barunya dan membangun imperiumnya sendiri. Menariknya, karakter kakek ini digambarkan sebagai seseorang yang senang main perempuan, sehingga beberapa kali kawin-cerai.


Komentar Pembaca
Cincin Untuk Emak

Cincin Untuk Emak

SABTU, 22 DESEMBER 2018

Malu Rasanya...

Malu Rasanya...

KAMIS, 06 DESEMBER 2018

CERMIN

CERMIN

RABU, 05 DESEMBER 2018

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

SENIN, 26 NOVEMBER 2018

Hari Pahlawan

Hari Pahlawan

SENIN, 12 NOVEMBER 2018

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

SELASA, 06 NOVEMBER 2018

Trauma Healing Garudafood Untuk Korban Tsunami Selat Sunda
Pantau Persiapan Natal Nasional

Pantau Persiapan Natal Nasional

RABU, 26 DESEMBER 2018 , 10:31:00

Evakuasi Taft Tenggelam

Evakuasi Taft Tenggelam

JUM'AT, 18 JANUARI 2019 , 20:36:00



The ads will close in 10 Seconds