>

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

KBKC  SELASA, 06 NOVEMBER 2018 , 13:27:00 WIB | OLEH: BUNDA ASMAWATI AL FAIQ

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

Asmawati Al Faiq/RMOLSumut


Kalau mengatakan mutu bahasa Indonesia bisa diukur dari sikap berbahasa kita di ruang publik, mungkin banyak yang tidak setuju. Tapi coba mari kita cermati  mutu bahasa Indonesia di berbagai media sosial. Cermati saat  -sebagai misal- penulisan di Facebook (FB) atau di whatsApp (WA). Cermati juga  kualitas bahasa Indonesia di berbagai tayangan sinetron. Kita akan mudah mendapatkan kata-kata tidak baku seperti 'ntah pa-pa', 'ko (kau)', 'mukak',  'ngapain', 'enggak', 'emang', 'gini', 'aja', dan kata-kata lain yang sejenis. Kita juga dengan fasih menyelipkan kata-kata 'so', 'you', 'sorry', 'and', 'or', 'thank you', dan yang sejenis dalam kalimat-kalimatnya. Mungkin ada yang mengatakan, tidak masalah dengan itu karena ada ragam bahasa media sosial. Tidakkah itu akan berdampak pada saat digunakan pada situasi formal? Saat menulis karya ilmiah?

Selain penggunaan kata tidak baku, penggunaan kata berkonotasi negatif juga marak saat ini. Sebagai contoh, kata yang sangat populer menjelang pilpres saat ini adalah "kecebong' 'kampret', dan 'sontoloyo'. Tidak ada konotosi positif dari kata-kata tersebut. Kata-kata itu semua digunakan dalam konteks negatif. Sayangnya hampir semua kalangan yang yang merasa berkepentingan dengan dunia perpolitikan atau dunia ‘dukung mendukung calon’ tanpa beban menggunakan kata-kata tersebut. Caci maki ‘berseliweran’ tidak mengenal waktu, batasan ruang dan situasi.

Wajah bahasa kita tidak saja diwarnai oleh bentuk fisik secara penulisan tetapi juga secara tutur di ruang publik. Penggunaan bahasa yang santun dan baku mendorong sikap hidup yang lebih bermartabat. Kualitas hidup ditentukan oleh tutur bahasa yang digunakan. Bangsa ini akan kehilangan sikap menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia jika kita remeh menggunakan bahasa. Persatuan bangsa akan hancur jika kita tidak menge'rem' pengunaan kata-kata bermakna konotasi negatif. Jadi, mari santun berbahasa.
 

Komentar Pembaca
Cincin Untuk Emak

Cincin Untuk Emak

SABTU, 22 DESEMBER 2018

Malu Rasanya...

Malu Rasanya...

KAMIS, 06 DESEMBER 2018

CERMIN

CERMIN

RABU, 05 DESEMBER 2018

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

SENIN, 26 NOVEMBER 2018

Hari Pahlawan

Hari Pahlawan

SENIN, 12 NOVEMBER 2018

Keluarga, Pewaris Rahim Ilmu

Keluarga, Pewaris Rahim Ilmu

JUM'AT, 26 OKTOBER 2018

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

JUM'AT, 19 APRIL 2019 , 21:00:00

Real Count KPU Lambat!

Real Count KPU Lambat!

KAMIS, 18 APRIL 2019 , 17:00:00

Jokowi: Jangan Jumawa, Tunggu Hasil Resmi KPU

Jokowi: Jangan Jumawa, Tunggu Hasil Resmi KPU

RABU, 17 APRIL 2019 , 19:00:00

Rachmawati Soekarnoputri Rangkul Golkar Dan PPP
Youth Enterpreneur Summit 2019

Youth Enterpreneur Summit 2019

SENIN, 08 APRIL 2019 , 11:26:00



The ads will close in 10 Seconds