>

CERMIN

Oleh : YARNITA

KBKC  RABU, 05 DESEMBER 2018 , 13:26:00 WIB

CERMIN

Ilustrasi/Net

CERPEN yang berada di depanku masih kutatap  memantulkan wajahku yang anggun dengan kebaya biru tua yang penuh bordiran di tepinya dan kain senada paduan warnanya ditambah lagi dengan hiasan hijab yang menutupi rambutku.Baru kali ini aku berdandan dengan kebaya yang juga dinanti-nantikan oleh setiap wantia.
    
Ya Allah, aku tidak pernah membayangkan hidupku dapat berjalan seperti yang kualami sekarang. Masih terbayang dipikiranku. Ketika itu, aku mematut-matut seragam SMA di depan cermin ini sambil berkata kepada ibuku. Mak, Agni cantik, ya, pakai seragam SMA ini. Coba dech, kalau Bapak masih ada, pasti Agni mengenakan seragam ini yang baru dan berangkat ke sekolah.Tapi sayang… Bapak sudah tidak ada lagi. Jadi, Agni tidak bisa mengenakannya ke sekolah karena tidak ada biaya masuk SMA. Padahal Agni diterima, ya, Mak. Mengapa Allah begitu cepat memanggil Bapak, Mak? Sementara kita masih membutuhkan kasih sayang Bapak, membutuhkan biaya kuliah Kakak, biaya sekolah Agni, dan adik-adik. Sementara teman-teman Agni yang tidak diterima di sekolah negeri, mereka dapat menikmati sekolah dengan membayar uang masuk jutaan rupiah karena mereka mampu dan bapaknya masih ada”.
   
Amak selalu memeluk dan menciumku jika aku sudah berujar seperti itu dengan mengenakan segam SMA yang diberikan oleh tetanggaku yang baru lulus. Setiap hari aku mematut-matut diriku di depan cermin dengan berseragam SMA. Setiap pukul 11 siang aku mandi bersamaan dengan tetanggaku, teman SMP-ku yang akan bersiap-siap ke sekolah. Padahal beberapa teman SMP-ku yang kebetulan juga tetanggaku, seperti Ita, Neni, dan Alex tidak terima di SMA negeri. Karena uang orang tuanya banyak, mereka bisa masuk SMA negeri. Sementara itu, aku sudah diterima di SMA negeri tetapi tidak dapat melanjutkan sekolah karena uang ibuku yang sedikit untuk biaya kuliah kakakku yang juga dapat di perguruan tinggi negeri, Universitas Andalas. Jadi, aku diminta ibuku untuk istirahat dulu dengan janji Insya Allah tahun depan ada rezeki, aku bisa mendaftar lagi ke SMA.
   
Yah… itulah rutinitasku sejak tahun pelajaran sekolah mulai berjalan. Aku mandi, mematut diri berseragam SMA di depan cermin selalu bicara danmenangis atas kepergian bapakku yang setahun lalu telah dipanggil Allah karena penyakit lever yang dideritanya.
   
Bulan keduanya ibuku tidak kuat lagi melihat kehidupanku berhari-hari seperti ini sehingga ibuku berbicara ketika aku kembali mematut diri dengan seragam SMA di depan cermin. Agni, Amak tidak sanggup lagi melihat kamu seperti ini terus, kamu bisa stress dan sakit, Nak. Malah tambah banyak biaya pengobatan kamu nanti. Amak janji, Nak, kamu akan sekolah tahun ini. Amak janji, yakinlah, Nak. Amak janji demi masa depan kamu, demi mewujudkan cita-citamu. Demi amanah bapakmu, Nak.” Amak memelukku kuat-kuat dengan tangisan kami berdua.
   

Komentar Pembaca
Bukan Sekadar Angan

Bukan Sekadar Angan

MINGGU, 28 APRIL 2019

Cincin Untuk Emak

Cincin Untuk Emak

SABTU, 22 DESEMBER 2018

Malu Rasanya...

Malu Rasanya...

KAMIS, 06 DESEMBER 2018

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

SENIN, 26 NOVEMBER 2018

Hari Pahlawan

Hari Pahlawan

SENIN, 12 NOVEMBER 2018

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

SELASA, 06 NOVEMBER 2018

Luhut Beri Hormat Pada ibu Ani Yudhoyono

Luhut Beri Hormat Pada ibu Ani Yudhoyono

SABTU, 01 JUNI 2019 , 19:43:00

Istri Gubernur Sambangi Kaum Dhuafa

Istri Gubernur Sambangi Kaum Dhuafa

SABTU, 25 MEI 2019 , 22:41:00

Sidak Kantor Samsat

Sidak Kantor Samsat

SENIN, 10 JUNI 2019 , 14:19:00



The ads will close in 10 Seconds