>

Climate March 2018 Di Polandia, Seruan Sipil Agar Seluruh Kepala Negara Peduli Perubahan Iklim

Rumah Kaca  MINGGU, 09 DESEMBER 2018 , 20:42:00 WIB | LAPORAN: ROBEDO GUSTI

Climate March 2018 Di Polandia, Seruan Sipil Agar Seluruh Kepala Negara Peduli Perubahan Iklim

Walhi Sumut/RMOLSumut

RMOLSumut. Hari ini, 8 Desember 2018, bersama dengan ribuan massa, WALHI-Friends of the Earth Indonesia mengambil bagian dalam gerakan global March for Climate "Wake up! It's Time to Save Our Home! sebagai rangkaian dari gerakan yang didorong oleh masyarakat sipil dalam putaran COP 24 Katowice-Polandia. Pada momentum COP 24 ini, WALHI menyuarakan berbagai fakta persoalan dan krisis lingkungan hidup dan perubahan iklim yang terjadi di tingkat tapak. Perubahan iklim sebagai problem global tidak bisa dilepaskan dari fakta krisis yang terjadi di tingkat tapak di berbagai belahan dunia, Indonesia salah satunya.
 
Namun faktanya, hingga putaran COP 24 ini, belum ada upaya yang signifikan dari para pihak, untuk mengoreksi model pembangunan dunia yang konsumtif yang memicu krisis iklim. Report IPCC terbaru menunjukkan ancaman yang begitu nyata yang harus dialami akibat jika suhu bumi tidak ditahan di bawah 1,5 derajat celcius. Kelangkaan air, krisis pangan dan dampak kesehatan yang akan dialami oleh penduduk bumi.
 
Deforestasi masih menjadi ancaman yang serius bagi Indonesia, penyumbang terbesar deforestasi dari perkebunan skala besar seperti perkebunan sawit, kebun kayu dan tambang. Di Kalimantan Barat saja perkebunan kelapa sawit telah menguasai lebih dari 4 juta hektar. Upaya penurunan emisi dengan menghentikan laju deforestasi tidak bisa hanya menjadi komitmen pemerintah pusat, namun juga pemerintah daerah yang memiliki kewenangan mengeluarkan perizinan dengan alasan untuk pendapatan daerah.
 
Dimas Hartono, Direktur WALHI Kalimantan Tengah menyatakan bahwa setiap tahunnnya Kalimantan Tengah kehilangan hutan seluas 132.000 hektar akibat industri ekstraktive. Sampai detik ini masih terjadi deforestasi di Kalimantan Tengah. Adalah kesesatan berpikir jika beranggapan bahwa deforestasi dapat menghasilkan pendapatan daerah. Negara justru harus menanggung biaya lingkungan akibat penghancuran hutan yang sistematis dilakukan.
 
Di  Kalimantan Barat laju deforestasi adalah persoalan serius dalam perluasan perkebunan sawit.


Komentar Pembaca
Dirut BPODT: Haranggaol Salah Satu Titik Paling Tercemar Di Danau Toba
Sungai Deli...

Sungai Deli...

RABU, 20 FEBRUARI 2019

Pertambangan Ramah Lingkungan?

Pertambangan Ramah Lingkungan?

RABU, 12 DESEMBER 2018

Hentikan Penambangan Di Sungai Idanogawo, Nias
Pertambangan di Sumut Ciptakan Kerusakan Lingkungan
YEL Desak PLTA Tampur Dihentikan

YEL Desak PLTA Tampur Dihentikan

JUM'AT, 09 NOVEMBER 2018

Ribuan Santri Demo Fadli Zon

Ribuan Santri Demo Fadli Zon

JUM'AT, 08 FEBRUARI 2019 , 18:45:00

HSE TSE Pertamina Sungai Gerong Terbakar

HSE TSE Pertamina Sungai Gerong Terbakar

SENIN, 11 FEBRUARI 2019 , 09:33:00

Berastagi Scouting Challenges

Berastagi Scouting Challenges

SENIN, 18 FEBRUARI 2019 , 10:13:00



The ads will close in 10 Seconds