>

Ikan Busuk, Pariwisata dan Masa Depan Danau Toba

Oleh Delima Silalahi

OPINI  SENIN, 28 JANUARI 2019 , 10:37:00 WIB

Ikan Busuk, Pariwisata dan Masa Depan Danau Toba

Keramba Jaring Apung Di Danau Toba/Net

Beberapa hari terakhir ini masyarakat dikejutkan oleh kabar tentang ditemukannnya berkarung-karung ikan busuk di Danau Toba pada kedalaman sekitar 35-40 meter dari permukaan oleh Larry Holmes Hutapea, seorang penyelam sekaligus pemerhati Danau Toba. Menurut ulasan yang berkembang di media massa, ikan-ikan busuk tersebut diduga milik perusahan raksasa PT Aquafarm Nusantara (PT AN) yang sudah lama beroperasi di kawasan danau. Tuduhan ini bukan tanpa sebab, lokasi penemuan karung-karung berisi ikan busuk tersebut berada di Desa Sirungkungon, Kecamatan Ajibata Kabupaten Toba Samosir, tidak jauh dari lokasi PT Aquafarm Nusantara.

Terhadap tuduhan tersebut, pihak perusahaan melalui humasnya membantah dengan dalih bahwa mereka juga perduli dengan lingkungan di Danau Toba. Siapa yang benar dari silang sengkarut ini bisa diputuskan melalui investigasi yang seksama. Tapi sambil menunggu proses investigasi lebih jauh, bau tidak sedap ikan busuk dalam karung kembali menegaskan beberapa hal yang selama ini sudah berkali-kali disuarakan masyarakat sekitar dan organisasi-organisasi masyarakat sipil yang ada di Kawasan Danau Toba seperti KSPPM, YPDT dan lainnya.

Pertama, ikan busuk dalam karung, milik Aquafarm maupun bukan, hanya kian memperjelas fakta pencemaran Danau Toba yang semakin tidak terkendalikan. Sudah tentu pencemaran memerlukan pembuktian secara ilmiah; tuntutan yang seringkali disurakan oleh pemain-pemain besar di Danau Toba yang juga sering menjadi pensuplai faktor penyebab pencemaran paling utama. Tapi bahkan tanpa penelitian ilmiah pun, pencemaran Danau terbesar di Asia Tenggara ini sangat jelas terlihat. Sudah lama terdengar anjuran untuk berhati-hati jika ingin berenang di Danau Toba, sebab airnya sudah tidak sebersih dulu lagi. Ada banyak lintah, juga berbagai limbah lainnya, yang mudah terlihat dengan mata telanjang. Belum lagi kejadian-kejadian aneh seperti air yang tiba-tiba menjadi coklat pekat atau hijau di tempat-tempat tertentu, atau ribuan bahkan jutaan ikan yang ditemukan mati mengambang. Penelitian yang dilakukan universitas, lembaga riset atau badan internasional seperti Bank Dunia, bukan menemukan pencemaran di Danau Toba. Tapi hanya mempertegas dan memberi bobot obyektif pencemaran yang selama bertahun-tahun sudah dirasakan dan ditanggung masyarakat setempat.

Kedua, ikan busuk adalah kejadian menggemparkan dari cerita lama pencemaran yang tidak pernah diperhatikan dan diatasi secara serius oleh Pemerintah, pusat maupun dan daerah, maupun para pemangku kepentingan seperti perusahan-perusahan swasta yang operasinya di kawasan ini berbasiskan eksploitasi sumberdaya alam. Respon yang diberikan umumnya lebih bersifat tambal sulam; cenderung reaktif ketika menghadapi isu panas seperti ikan busuk ini; atau sebatas "pencitraan" dan dalam rangka mobilisasi dukungan. Tidak ada upaya sistemik untuk memperbaiki kerusakan lingkungan Danau Toba yang semakin parah, misalnya dengan mentransformasi model pembangunan dan pola pelibatan masyarakat dalam prosesnya. Sebaliknya, kerusakan lingkungan masih diperlakukan sebagai ekses yang perlu dikendalikan, terutama jika pengendaliannya berpengaruh terhadap kucuran bantuan asing untuk proyek pembangunan tertentu.

Ironinya, ketidakpedulian terhadap pencemaran Danau Toba, justeru terus berlangsung di tengah upaya Pemerintah yang sedang galak-galaknya ingin menyulap kawasan ini sebagai destinasi pariwisata bertaraf internasional. Bagaimana bisa keindahan kawasan ini akan dijajakan bagai para wisatawana mancanegara, sementara upaya serius untuk menjaga keindahan tersebut tidak lakukan? Upaya menjaga keindahan dalam hal ini tidak lain dari menjaga dan merawat lingkungan secara sistemik. Apa indahnya Danau Toba jika dipenuhi ikan busuk atau ikan mati mengambang, ada lintah dimana-mana dan airnya kecoklatan? Sementara masih terus dipertanyakan, bahkan dengan mengikuti logika menjual keindahan alam” yang diyakininya saja, tampak jelas kejadian ikan busuk dalam karung di kedalam sekitar 35-40 meter dari permukaan danau membuat niat membangun pariwisata di kawasan ini tampak tidak logis dan bertolak belakang dengan janjinya.


Komentar Pembaca
Mandailing Style

Mandailing Style

SENIN, 22 APRIL 2019

Pencoblosan Ngawur Di Malaysia

Pencoblosan Ngawur Di Malaysia

SABTU, 13 APRIL 2019

Inovasi Sandi Merambat Ke Kaum Milenial
Presiden Sebaiknya Keluarkan Instruksi dan Maklumat
Saatnya Dua Jenderal Umat Turun Gunung
Dampak Elektoral Kasus Romi

Dampak Elektoral Kasus Romi

MINGGU, 24 MARET 2019

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

JUM'AT, 19 APRIL 2019 , 21:00:00

Real Count KPU Lambat!

Real Count KPU Lambat!

KAMIS, 18 APRIL 2019 , 17:00:00

Jokowi: Jangan Jumawa, Tunggu Hasil Resmi KPU

Jokowi: Jangan Jumawa, Tunggu Hasil Resmi KPU

RABU, 17 APRIL 2019 , 19:00:00

Rachmawati Soekarnoputri Rangkul Golkar Dan PPP
Youth Enterpreneur Summit 2019

Youth Enterpreneur Summit 2019

SENIN, 08 APRIL 2019 , 11:26:00



The ads will close in 10 Seconds