Monopoli Penguasaan Lahan Sama Dengan Pengkhianatan Amanat Konstitusi

Oleh : Prof Dr. H. Hasim Purba

OPINI  SELASA, 26 FEBRUARI 2019 , 10:20:00 WIB

Monopoli Penguasaan Lahan Sama Dengan Pengkhianatan Amanat Konstitusi

Prof. Dr. Hasim Purba/RMOLSumut


Merujuk kepada amanat konstitusi dan salah satu tujuan bernegara yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur, maka praktek penguasaan dan pemilikan lahan secara monopoli dengan luasan yang sangat pantatstis jelas perbuatan yang bertentangan dengan amanat konstitusi.

Memang dalam aturan pokok Pertanahan yang masih mendasarkan pada UU No.5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok  Agraria atau sering disebut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), tidak ada mengatur secara tegas batasan luas maksimum pemilikan dan penguasaan tanah oleh subjek hukum  badan hukum/perusahaan. Termasuk dalam hal penguasaan lahan dengan alas Hak Guna Usaha (HGU), sehingga ketidaktegasan aturan tersebut manjadi  celah hukum yang dimanfaatkan para pemilik modal untuk melakukan penguasaan dan pemilikan tanah dengan luasan yang sangat pantastis, dengan berbagai dalih seperti pengembangan investasi yang diharapakan menjadi terbukanya lapangan kerja.

Mungkin di satu sisi alasan pengembangan investasi dan pembukaan lapangan kerja  tersebut dapat diterima akal, akan tetapi pada sisi lain kondisi ini jelas telah melahirkan ketidak adilan bahkan kesengsaraan yang meluas bagi sebagian besar Rakyat Indonesia karena tidak punya kesempatan untuk mendapatkan hak atas tanah untu dikuasai dan dikelolanya sebagai sumber penghidupan. Bahkan para petani yang awalnya pemilik lahan pertanian tidak sedikit yang  harus melepaskan hak-haknya atas lahan karena terjadinya perkembangan alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran, sehingga rakyat yang awalnya hidup sebagai petani yang sukses harus berubah profesi menjadi buruh tani, buruh pabrik, menjadi buruh harian lepas, mocok-mocok, atau pekerja lain diluar sektor pertanian. Lahan-lahan yang sebagian besar jatuh ke tangan para pemilik modal untuk dijadikan kawasan industri, perumahan dan kegiatan lainnya menimbulkan monopoli lahan di wilayah perkotaan.

Demikian juga halnya penguasaan lahan di perdesaan atau bahkan kawasan hutan yang sangat luas ratusan ribu hektar bahkan beberapa perusahaan atau kelompok perusahaan tertentu dapat menguasai lahan sampai jutaan hektar, jelas telah membuktikan bahwa penguasaan dan pemilikan lahan di Indonesia benar-benar telah menyimpang bahkan dapat dikatakan bertentangan dengan amanat konstitusi.

Kita sangat miris melihat bahwa sejumlah tokoh-tokoh politik, pengusaha, pejabat dan mantan pejabat baik di pusat maupun di daerah adalah  pelaku-pelaku atau aktor-aktor yang terlibat dalam kepemilikan dan penguasaan lahan yang jauh dari prinsip keadailan dan amanat Konstitusi. Ketimpangan Pemilikan dan Penguasaan lahan yang  terjadi saat ini dapat dikatakan sebagai praktek monopoli , dan hal tersebut jelas membawa ketidak adilan dan sumber kemiskinan yang terstruktur bagi bagian terbesar Rakyat Indonesia.  

Komentar Pembaca
Jangan Percaya Rekomendasi Bank Dunia Untuk Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan Indonesia
Nahrawi Dan Moralitas Islam Nusantara

Nahrawi Dan Moralitas Islam Nusantara

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019

Homo Deus Versus Homo Robotic

Homo Deus Versus Homo Robotic

RABU, 18 SEPTEMBER 2019

Bersih-Bersih Kota Medan Ala Akhyar Nasution
Eyang, Saya dan mimpi tentang Indonesia

Eyang, Saya dan mimpi tentang Indonesia

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019

Pergilah Wahai Pahlawan Bangsa

Pergilah Wahai Pahlawan Bangsa

KAMIS, 12 SEPTEMBER 2019

Generasi Golkar Kehilangan Sentuhan Soeharto

Generasi Golkar Kehilangan Sentuhan Soeharto

MINGGU, 22 SEPTEMBER 2019 , 21:46:52

Ace Hasan Syadzily: Manuver Bambang Soesatyo Biasa Saja
PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

PASANG SURUT CALON KETUA UMUM PAN

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 , 22:10:26

Bintang Kejora Dijahit Belanda

Bintang Kejora Dijahit Belanda

SENIN, 02 SEPTEMBER 2019 , 09:02:00

Bobby Nasution Dan Sutrisno Pangaribuan

Bobby Nasution Dan Sutrisno Pangaribuan

MINGGU, 28 JULI 2019 , 15:14:00

Turun Jumpai Buruh

Turun Jumpai Buruh

RABU, 28 AGUSTUS 2019 , 09:31:00