>

Bukan Sekadar Angan

KBKC  MINGGU, 28 APRIL 2019 , 10:45:00 WIB

Bukan Sekadar Angan
Sepulangnya dari surau, ia segera kembali ke rumah. Di rumah, ibunya telah bersiap-siap.
Ayo langsung saja kita berangkat, hari sudah terlalu siang,”tutur Ibunya.
Ayo, deh, Bu,” sahut Dirga.
Berhubung moda transportasi yang tersedia di desa mereka hanya ada dua pilihan, -gerobak pengangkut sayur-sayuran dari ladang menuju pasar dan satu lagi becak motor, merekapun memutuskan untuk menumpang gerobak pengangkut sayur saja untuk menghemat ongkos. Tak butuh waktu lama untuk menunggu gerobak sayur itu lewat, karena memang biasanya pada tengah hari begini para pedagang di pasar sudah selesai berjualan sehingga para supir yang sebelumnya beristirahat di rumah bergerak menuju kota untuk menjemput para pedagang di pasar.

Melihat gerobak sayur melaju dari kejauhan, Dirga langsung saja melambaikan tangannya ke arah gerobak tersebut, memberi isyarat kepada supir agar berhenti dan memberikan mereka tumpangan. Para supir di sini memang sudah terbiasa dengan warga yang ingin menumpang ke kota, jadi pantas saja kini supir yang diberhentikan oleh Dirga itu langsung berhenti dan mempersilahkan Dirga beserta ibunya untuk naik ke gerobak belakang, yang biasa digunakan untuk tempat mengangkut sayur-sayuran.
Terima kasih, ya, Pak, sudah memberikan kami tumpangan,” kata ibu Dirga kepada supir itu.
Iya, Mbak sama-sama, kan memang biasanya juga seperti ini”, jawab supir dengan nada santai.
Jangan bosan-bosan ngasih kami tumpangan, ya, Pak,”lanjut Ibu Dirga yang kemudian langsung dijawab dengan senyuman oleh supir itu. Sebenarnya Ibu Dirga sedikit segan, nyatanya memang benar yang dikatakan oleh supir itu. Ia telah lebih dari  satu kali menumpang gerobak sayur seperti itu  ketika ingin pergi ke kota. Karena lagi-lagi, menghemat ongkos adalah alasan utamanya.
Pasar yang mereka tuju itu letaknya di sudut kota, agak sedikit bersembunyi dari hiruk- pikuk kota kecil ini. Ketika mereka melewatinya, tak henti-henti Dirga memandang ruko-ruko yang berjajar di pinggir jalan yang dipenuhi dengan berbagai macam barang dagangan. Ada satu ruko yang tak pernah lepas mencuri perhatiannya setiap kali ia pergi ke kota. Ruko itu bercat dinding merah dengan motif garis-garis vertikal pada pintunya. Di terasnya, berjajar rapi sepeda-sepeda milik para orang yang ada di dalam ruko tersebut. Pandangan sedih bercampur rasa putus asa membuat mata Dirga berkabut.

Komentar Pembaca
Cincin Untuk Emak

Cincin Untuk Emak

SABTU, 22 DESEMBER 2018

Malu Rasanya...

Malu Rasanya...

KAMIS, 06 DESEMBER 2018

CERMIN

CERMIN

RABU, 05 DESEMBER 2018

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

KBKC: dari Omong-omomg Akhirnya Move On

SENIN, 26 NOVEMBER 2018

Hari Pahlawan

Hari Pahlawan

SENIN, 12 NOVEMBER 2018

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

Kampret Dan Cebong Di Wajah Bahasa Kita

SELASA, 06 NOVEMBER 2018

Luhut Beri Hormat Pada ibu Ani Yudhoyono

Luhut Beri Hormat Pada ibu Ani Yudhoyono

SABTU, 01 JUNI 2019 , 19:43:00

Istri Gubernur Sambangi Kaum Dhuafa

Istri Gubernur Sambangi Kaum Dhuafa

SABTU, 25 MEI 2019 , 22:41:00

PWI Sumut Apresiasi Asian Agri

PWI Sumut Apresiasi Asian Agri

KAMIS, 09 MEI 2019 , 18:24:00



The ads will close in 10 Seconds