>

Boyolali Bergerak: Membangun Daerah Sembari Merantau

Oleh: Angga Fauzan

OPINI  SENIN, 20 MEI 2019 , 08:41:00 WIB

Boyolali Bergerak: Membangun Daerah Sembari Merantau

Boyolali Bergerak/Net

HATTA pernah beretorika bahwa Indonesia tak boleh hanya mengandalkan obor besar di Jakarta, melainkan juga melalui lilin yang menyala di tiap desanya. Dengan kata lain, beliau menggarisbawahi bahwa pembangunan Indonesia juga harus menggeliat, bertumbuh dan mekar di daerah. Sayangnya, anak muda yang diekspektasikan sebagai agen perubahan, hampir selalu diharuskan untuk merantau â€" terutama mereka yang tinggal di desa-desa. Sebut saja untuk keperluan berkuliah atau bekerja. Alhasil, kampung-kampung di Indonesia yang jumlahnya ribuan itu acap kali hanya didatangi oleh para putra daerahnya kala libur lebaran. Hal ini cukup mengkhawatirkan, mengingat ketimpangan kemajuan desa bisa semakin jauh tertinggal karena para ‘orang pintarnya’ berlabuh ke kota.

Komunitas Boyolali Bergerak hadir untuk mendobrak kerawanan tersebut. Diinisasi oleh Angga Fauzan pada tahun 2016 saat masih berkuliah di ITB, organisasi sukarelawan tersebut kini sudah memberikan kebermanfaatan bagi ratusan orang dan di hampir 10 titik kecamatan di Boyolali, Jawa Tengah. Angga memulai Boyolali Bergerak dengan membuat infografis sederhana dan membagikannya melalui halaman Facebook Boyolali Bergerak yang dibuatnya sendiri. Lantas, ia mengadakan lomba cerpen tentang Boyolali yang hadiahnya berasal dari uang beasiswa bidikmisinya, serta lomba pengadaan perpustakaan kecil di Boyolali melalui kerjasama dengan sebuah komunitas di Bandung.

Setelah kegiatan kecil tersebut berjalan lancar, Angga melihat peluang bahwa para perantau muda sepertinya bisa turun tangan untuk membangun daerahnya, sekecil apapun itu. Lantas, ia mengajak beberapa kawan SMA-nya untuk mengembangkan komunitas Boyolali Bergerak. Dimulai dari mempromosikan berbagai UKM lokal di Boyolali melalui akun media sosialnya, mereka pun melanjutkan eskalasi gerakannya dengan lebih serius.

Erna, salahseorang penggerak di Boyolali Bergerak dan sekaligus mahasiswi UGM, memantik gerakan dengan kegelisahan yang ia miliki di desanya. Banyak keluarga kurang mampu yang kesulitan memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah untuk anak-anaknya, meskipun pendidikan dasar sudah digratiskan. Alhasil, mereka pun menyepakati untuk menggalang dana dengan berjualan kaos yang keuntungannya diberikan kepada para siswa SD yang kurang mampu di desa tempat Erna tinggal. Penggalangan donasi pun sukses dan Boyolali Bergerak berhasil membantu sekitar 30 anak untuk mencukupi kebutuhan akan perlengkapan sekolahnya.

Satu per satu gerakan pun terus dijalankan oleh Boyolali Bergerak, berlandaskan pada kegelisahan dan kebersamaan para penggerak di dalamnya yang tersebar di berbagai kampus. Sebut saja pembangunan Taman Pendidikan Al-Qur’an di desa Lencoh, Selo yang awalnya hanya memiliki sekitar 15-30 murid tiap harinya dan dibina oleh sepasang suami-istri pedagang kaki lima. TPA itu dijalankan di rumah mereka yang berdinding tripleks, sebanyak seminggu enam kali dan tanpa memungut biaya sepersen pun. Berkat kerjasama yang dirajut oleh Angga dan kawan-kawan melalui Boyolali Bergerak bersama berbagai pihak, kini TPA tersebut sudah direnovasi menjadi bangunan permanen, memiliki perpustakaan yang menarik, dan tengah membangun MCK serta Mushola yang bisa dimanfaatkan oleh lebih dari 100 santrinya saat ini. Dua TPA lain yang terletak di kecamatan berbeda pun kini menjadi ruang berkarya bagi Boyolali Bergerak.


Komentar Pembaca
Luhut Beri Hormat Pada ibu Ani Yudhoyono

Luhut Beri Hormat Pada ibu Ani Yudhoyono

SABTU, 01 JUNI 2019 , 19:43:00

Istri Gubernur Sambangi Kaum Dhuafa

Istri Gubernur Sambangi Kaum Dhuafa

SABTU, 25 MEI 2019 , 22:41:00

Sidak Kantor Samsat

Sidak Kantor Samsat

SENIN, 10 JUNI 2019 , 14:19:00



The ads will close in 10 Seconds