Hari Batik Nasional, Nestapa Perajin Lokal Diserang Produk China

Budaya  KAMIS, 03 OKTOBER 2019 , 09:59:00 WIB

Hari Batik Nasional, Nestapa Perajin Lokal Diserang Produk China
Hari batik nasional diharapkan tak sekadar perayaan dengan memakai kain batik, melainkan berjayanya batik buatan lokal.

Seperti yang diharapkan Agus Sugiarto (53), penerus pembuat batik Garutan Saha Deui (SHD). Agus berharap, batik lokal bisa menjadi unggulan di negeri sendiri.

"Hari batik itu bukan sekadar hanya pakai batik. Tapi minimal tahu batik lokal dan bisa memakainya," kata Agus dilansir Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (2/10).

Bukan tanpa alasan, Agus yang meneruskan orangtuanya ini merasakan pasang surut pemasaran batik. Namun diakuinya tahun ini jadi yang paling berat bagi Agus.

"Tahun 2015 dan 2016 penjualan batik masih bagus. Banyak pesanan dari wilayah Garut dan luar daerah. Tapi sejak 2017, penjualan batik menurun 40 persen," jelasnya.

Agus memproduksi dua jenis batik, yakni tulis dan cap. Setiap dua bulan rata-rata ia memproduksi batik tulis sebanyak delapan potong yang dikerjakan empat pekerja. Sedangkan batik cap sebanyak satu kodi atau 20 potong per 10 hari.

"Buat batik tulis tergantung pesanan juga sih. Satu potong itu butuh waktu dua bulan. Kualitas sangat kami jaga," katanya.

Ada beberapa faktor yang membuat kecilnya keuntungan penjualan batik, mulai dari tingginya harga bahan baku, hingga serangan produk impor.

Batik tulis berukuran 2,6 meter x 1,05 meter dijual sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan batik cap ukuran 2,30 meter x 1,05 meter seharga Rp 200 ribu. Mahalnya harga batik lokal karena proses produksi yang butuh waktu lama.

Ia melanjutkan, orang awam akan sulit membedakan produk batik lokal dan batik impor. Sekilas, batik yang banyak dijual di toko-toko besar akan dikira sebagai batik hasil perajin di Indonesia.

"Yang dijual di toko itu paling batik impor dari China. Harganya saja di bawah Rp 100 ribu. Kalau batik lokal harganya di atas Rp 200 ribu," kata Agus yang sejak tahun 2000 meneruskan usaha batik Garutan.

Oleh karenanya, ia memberikan tips membedakan produk batik lokal dan impor. Pertama batik impor biasanya dibuat menggunakan mesin. Cetakan gambar dan catnya sangat rapi, dan warna yang dihasilkan bisa lebih dari empat.

"Kalau batik lokal walau batik cap itu hanya bisa tiga warna. Terus warnanya sering ada yang keluar garis. Kalau yang impor sangat rapi warna dan garisnya," tandasnya.[top]

Komentar Pembaca
Prabowo Cocok Jadi Wantimpres

Prabowo Cocok Jadi Wantimpres

KAMIS, 17 OKTOBER 2019 , 14:25:41

Densus 88 Amankan Terduga Teroris di Gunungpati Semarang
Walikota Medan Terjaring OTT KPK

Walikota Medan Terjaring OTT KPK

RABU, 16 OKTOBER 2019 , 11:36:34

Bintang Kejora Dijahit Belanda

Bintang Kejora Dijahit Belanda

SENIN, 02 SEPTEMBER 2019 , 09:02:00

Turun Jumpai Buruh

Turun Jumpai Buruh

RABU, 28 AGUSTUS 2019 , 09:31:00

Bobby Nasution-Bobby Zulkarnain

Bobby Nasution-Bobby Zulkarnain

SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 , 19:47:00